• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Ketahui Pentingnya Mengecek Seberapa Ideal Berat Badan yang Berpengaruh ke Kesuburan Laki-laki

April 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita sering dengar kalau kelebihan berat badan bisa ganggu kesehatan. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, kalau lemak di perut juga bisa ngaruh ke kualitas sperma? meski banyak pengaruh yang lain, MDG pada kesempatan kali ini ingin membahas dari sisi obesitas atau kelebihan lemak terutama jika ini terjadi pada paksu. 

Kelebihan Berat Badan & Sperma: Apa Hubungannya?

Seseorang dengan kelebihan berat badan dapat mengurangi kualitas dan kesuburan sperma. Kenapa bisa terjadi? nah hal ini berkesinambungan dengan ketidakseimbangan hormonal. Pada laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas, menurut penelitian, sperma yang dihasilkan biasanya memiliki kualitas yang buruk. 

Hal itu terjadi karena adanya perubahan hormon yang menjadi tidak seimbang. Laki-laki dengan berat badan berlebih biasanya  juga jadi lebih sulit untuk mengalami ereksi. Banyak cara mengetahui ukuran tubuh agar dapat diketahui apakah sudah ideal atau belum.

Cara Mengetahui Atau mengukur Lemah pada Tubuh

Beberapa penelitian udah nunjukin bahwa laki-laki yang kelebihan berat badan lebih rentan punya masalah sperma, entah itu dari segi jumlah, pergerakan, atau bentuknya. Nah, biasanya untuk mengukur berat badan, dipakai yang namanya BMI (Body Mass Index). Tapi, BMI ini cuma ngitung berat dan tinggi badan, tanpa tahu lemaknya ngumpul di mana.

Lalu bagaimana dengan lemak yang ada di bagian tertentu seperti pada perut, fakta bahwa lemak di perut (obesitas sentral) justru bisa lebih bahaya dan lebih akurat menunjukkan risiko kesehatan. Nah untuk itu muncul pengukuran lain: WHR (Waist-to-Hip Ratio) atau rasio lingkar pinggang ke pinggul. WHR ini bisa ngasih gambaran apakah lemak tubuh terkonsentrasi di bagian perut atau nggak.

Nah bagi sister dan paksu yang baru familiar sama cara pengukuran berat badan di BMI, sebaiknya mempertimbangkan juga pengecekan lain seperti WHR. Oh ya penyebab dari obesitas di perut juga beragam ya. Tapi secara umum memang sama-sama kelebihan berat badan. 

Cara Mengatasi Perut Buncit

Pada penyebab perut buncit oleh penumpukan lemak berlebih atau obesitas bisa paksu atasi dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti diet atau mengatur pola makan, mengonsumsi makanan sehat serta memiliki gizi seimbang, mencukupi waktu tidur minimal 7-9 jam per hari, berolahraga secara rutin, berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.

Karena paksu harus ketahui bahwasanya penelitian yang dilakukan oleh Keszthelyi et.al (2020)  ini kasih sinyal kuat kalau obesitas di area perut bisa berdampak ke kesuburan laki-laki. Nggak cuma jumlah sperma yang turun, tapi juga kemampuan mereka buat “berenang” menuju sel telur. Jadi baiknya untuk paksu harus  mulai jaga pola makan dan olahraga teratur. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Keszthelyi, M., Gyarmathy, V. A., Kaposi, A., & Kopa, Z. (2020). The potential role of central obesity in male infertility: body mass index versus waist to hip ratio as they relate to selected semen parameters. BMC Public Health, 20, 1-10.
  • https://www.halodoc.com/artikel/cek-hubungan-berat-badan-vs-kesuburan-pria
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/penyebab-perut-buncit

 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, obesitas, perut buncit, sperma

A Body Shape Index (ABSI) dan Infertilitas: Apakah Bentuk Tubuh Bisa Jadi Petunjuk Kesuburan?

April 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya persoalan medis semata, tapi juga isu kesehatan masyarakat yang berdampak besar pada kualitas hidup jutaan perempuan di dunia. Bahkan diperkirakan, sekitar 10–15% perempuan usia reproduksi mengalami kesulitan untuk hamil. Di balik angka ini, ada beban psikologis, tekanan sosial, dan tantangan ekonomi yang tidak kecil. MDG akan membahas salah dengan sudut pandang ABSI. 

Ketahui Lemak visceral Faktor Infertilitas

Masalah infertilitas sendiri sangat kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari genetik, lingkungan, gaya hidup, hingga kondisi metabolik. Karena itu, penting bagi kita untuk terus mencari penanda baru yang bisa membantu deteksi dini dan penanganan infertilitas secara lebih efektif.

Salah satu faktor yang akan MDG bahas adalah dalam faktor obesitas, khususnya obesitas sentral (lemak yang menumpuk di sekitar perut). Lemak visceral (lemak di sekitar organ dalam perut) punya dampak lebih besar terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). Lemak visceral ini berkontribusi terhadap resistensi insulin, gangguan hormon, bahkan masalah sistem imun, semuanya bisa mengganggu kesuburan perempuan.

Cara Mengukur Lemak yang Efektif

Masalahnya, pengukuran obesitas yang umum digunakan seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) ternyata tidak cukup akurat untuk membedakan jenis lemak ini. Alternatif seperti waist-to-hip ratio (WHR) dan visceral adiposity index (VAI) sudah mulai digunakan, tapi keduanya juga punya keterbatasan, baik dalam hal akurasi maupun kemudahan penggunaannya di lapangan.

Nah, disinilah ABSI (A Body Shape Index) hadir sebagai solusi baru. Apa Itu ABSI? ABSI adalah indeks antropometri yang menggabungkan data lingkar pinggang, tinggi badan, dan berat badan untuk memberikan gambaran yang lebih presisi tentang lemak perut. Rumus ABSI adalah: ABSI = Lingkar Pinggang / (BMI^(2/3) × Tinggi^(1/2))

Dengan pendekatan ini, ABSI dinilai lebih jitu dalam mendeteksi risiko yang berhubungan dengan lemak visceral seperti penyakit jantung, diabetes, sindrom metabolik, dan bahkan kematian dini. Tapi yang menarik, belum banyak studi yang mengkaji kaitannya dengan infertilitas perempuan.

Hubungan Bentuk Tubuh dan Kesuburan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yang et.al 2024 menunjukkan bahwa perempuan dengan nilai ABSI yang lebih tinggi menunjukkan tingkat infertilitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan ABSI lebih rendah. Dari sisi kesehatan, mereka juga lebih sering mengalami tekanan darah tinggi dan diabetes. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai ABSI yang tinggi dapat menjadi petunjuk awal adanya risiko gangguan kesuburan, terutama jika dilihat bersama faktor-faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, dan gaya hidup. 

Sehingga dapat kita pahami bahwa memahami bentuk tubuh lebih dalam bukan sekadar berat badan atau BMI saja yang bisa membantu kita mengenali potensi risiko lebih awal dan mengambil langkah yang tepat. ABSI juga unggul karena mudah dihitung, non-invasif dan cocok digunakan dalam pengaturan skala besar.

Namun tentu saja, dibutuhkan pengecekan lebih lanjut dan memahami secara lebih mendalam hubungan antara bentuk tubuh dan kesuburan perempuan. Tapi satu hal pasti cara tubuh menyimpan lemak ternyata bisa memberi kita petunjuk penting tentang kesehatan reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Yang, Q., Wuliu, J., Zeng, L. et al. Association between a body shape index and female infertility: a cross-sectional study. BMC Women’s Health 24, 486 (2024). https://doi.org/10.1186/s12905-024-03335-1

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, lemak visceral, paksu, perempuan, sister

Depresi Bisa Bikin Sulit Hamil? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Sister!

April 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pejuang dua garis seringkali dihadapkan dengan banyak tekanan, tidak lain adalah tekanan sosial baik dari lingkup sekitar atau bahkan dari keluarga. Hal ini jika ini berlarut-larut maka akan berdampak pada depresi. MDG akan membahas bagaimana hubungannya depresi dengan kasus infertilitas, baca sampai habis ya!

Depresi dan Hubungannya dengan Infertilitas

Depresi dan masalah sulit hamil ternyata nggak cuma berdampak pada kesehatan fisik atau mental aja, tapi bisa saling berkaitan juga, lho. Kaitanya tidak lain adalah kasus infertilitas. Apa sebenarnya yang menghubungkan keduanya?

Nah, salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah soal lemak darah. Bukan cuma soal kolesterol tinggi ya, tapi lebih spesifik lagi: rasio Non-HDL cholesterol to HDL cholesterol ratio (NHHR), yaitu perbandingan antara kolesterol jahat (non-HDL) dan kolesterol baik (HDL). Bagaimana ini dipahami?

Saat seseorang mengalami stres atau depresi dalam jangka panjang, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol yang bisa mengganggu keseimbangan lemak dalam darah. Akibatnya, kadar kolesterol jahat bisa naik dan kolesterol baik bisa turun, yang ditunjukkan lewat rasio NHHR. Nah, rasio ini bisa jadi penanda bahwa tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa mempengaruhi hormon, aliran darah ke organ reproduksi, bahkan menyebabkan peradangan, yang semuanya bisa berujung pada gangguan kesuburan.

Bahkan ada sebuah temuan yang melibatkan lebih dari 2.600 perempuan usia 18–45 tahun di Amerika Serikat. Para peneliti menganalisis data dari survei kesehatan nasional (NHANES) dan mendapatkan temuan Perempuan yang mengalami infertilitas cenderung punya tingkat depresi yang lebih tinggi. Mereka juga punya rasio NHHR yang lebih tinggi. Depresi sedang sampai berat bikin risiko infertilitas jadi makin besar. Rasio NHHR ikut berperan memperkuat hubungan antara depresi dan infertilitas.

Artinya, ketika seseorang mengalami depresi, kadar kolesterol “jahat” di tubuh bisa meningkat, rasio NHHR ikut naik, dan ini bisa berdampak ke fungsi reproduksi.

Walaupun NHHR cuma memediasi sebagian kecil hubungan ini (sekitar 6,57%), tapi tetap menunjukkan bahwa kesehatan mental dan metabolisme tubuh bisa saling memengaruhi, termasuk dalam hal kesuburan.

Jadi, Apa yang Bisa sister dan paksu Pelajari?

Kesehatan mental itu penting banget, bagaimana ini ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesuburan. Jangan anggap remeh stres berkepanjangan atau depresi yang nggak ditangani.

Kalau sister dan paksu, juga orang terdekat mengalami gejala depresi, nggak ada salahnya buat cari bantuan. Selain itu, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan memantau kesehatan metabolik (seperti kolesterol) juga bisa jadi bagian dari ikhtiar menjaga peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Yang, Q., Tao, J., Xin, X., Zhang, J., & Fan, Z. (2024). Association between depression and infertility risk among American women aged 18–45 years: the mediating effect of the NHHR. Lipids in Health and Disease, 23(1), 178.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, hamil, infertilitas, pejuang dua garis

Pahami Naiknya Weight-Adjusted Waist Index (WWI) dan Risiko Infertilitas

April 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas adalah isu yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, tahukah sister bahwa bentuk tubuh kita, khususnya distribusi lemak tubuh, juga bisa berperan? MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai habis ya!

Keunggulan WWI dibanding IMT

Weight-Adjusted Waist Index (WWI) atau Indeks pinggang yang disesuaikan dengan berat badan adalah ukuran baru yang digunakan untuk mengevaluasi distribusi lemak di sekitar perut, tanpa terlalu dipengaruhi oleh berat badan total. Berbeda dengan indeks massa tubuh (IMT) yang digunakan untuk menentukan berat badan ideal berdasarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan, WWI dianggap lebih akurat untuk menilai lemak viseral jenis lemak yang sering dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.

Survei terbaru bahkan sudah dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), yang dikumpulkan selama periode 2013 hingga 2018. Fokusnya adalah pada 3.374 perempuan usia subur, yang kemudian dianalisis untuk melihat apakah ada hubungan antara ukuran WWI dan kemungkinan mengalami infertilitas.

Survei tersebut tidak hanya membandingkan angka semata. Mereka juga mempertimbangkan berbagai faktor lain yang bisa mempengaruhi kesuburan, seperti usia, latar belakang etnis, dan kondisi kesehatan secara umum. Selain itu, mereka ingin tahu: apakah semakin tinggi WWI selalu berarti semakin besar pula risiko infertilitas? Jawabannya ternyata iya, dan pola itu berlangsung secara konsisten, dari angka WWI yang rendah hingga tinggi.

Apa yang Ditemukan?

Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa sebagian perempuan mengalami infertilitas. Dan menariknya, kecenderungan itu meningkat seiring dengan tingginya WWI. Semakin tinggi ukuran pinggang yang disesuaikan dengan berat badan, semakin besar pula kemungkinan mereka menghadapi masalah kesuburan.

Hubungan ini juga terlihat konsisten, tanpa adanya titik tertentu yang bisa dijadikan batas aman. Artinya, bahkan sedikit peningkatan dalam WWI tetap dapat memberi pengaruh terhadap risiko infertilitas.

Yang tak kalah penting, pengaruh WWI ini ternyata bisa berbeda-beda tergantung pada karakteristik tiap individu. Usia, latar belakang etnis, dan kondisi tubuh lainnya bisa membuat hubungan antara WWI dan kesuburan menjadi lebih kompleks dan patut untuk ditelusuri lebih dalam.

Kalau sister sedang dalam perjalanan menuju kehamilan, nggak ada salahnya mulai memperhatikan pola hidup sehat, termasuk menjaga lemak tubuh tetap seimbang. Konsultasi ke tenaga medis juga penting supaya bisa dapat gambaran utuh tentang kondisi tubuh kita masing-masing.

Mau ngobrol lebih lanjut soal WWI atau bahas topik seputar kesuburan lainnya? Yuk, share artikel ini jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id karena banyak banget informasi seputar infertilitas yang dapat kamu akses 

Referensi

  • He, Q., Chen, C., & Bai, S. (2023). The association between weight‐adjusted‐waist index and self‐reported infertility among women of reproductive age in the United States. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 49(12), 2929-2937.
  • https://www.alodokter.com/pemahaman-seputar-indeks-massa-tubuh#:~:text=Indeks%20massa%20tubuh%20(IMT)%20digunakan,terhindar%20dari%20beragam%20gangguan%20kesehatan.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, perempuan, Weight-Adjusted Waist Index

Weight-Adjusted Waist Index (WWI), Depresi, dan Infertilitas Sekunder, Apa Hubungannya?

April 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Tahukah kamu, sister? Obesitas dan depresi ternyata bukan cuma berdampak pada kesehatan fisik dan mental saja. Keduanya juga punya peran penting dalam gangguan kesuburan, khususnya pada infertilitas dengan jenis sekunder. MDG akan membahas lebih detail baca sampai habis ya!

WWI, Infertilitas Sekunder dan Depresi 

Infertilitas sekunder sendiri merupakan kondisi saat seorang wanita pernah hamil sebelumnya, tapi kini tidak bisa hamil lagi setelah 12 bulan berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Sedangkan obesitas memang sudah lama diidentifikasi sebagai musuh kesuburan. Tapi bukan cuma soal berat badan atau BMI ya, sister. Yang lebih berbahaya adalah obesitas sentral lemak yang menumpuk di perut.

Nah, untuk mengukurnya, kini ada indikator yang lebih akurat dibanding BMI: Weight-Adjusted Waist Index (WWI). WWI dihitung dari lingkar pinggang dibagi dengan kuadrat berat badan, dan ternyata lebih sensitif dalam mendeteksi lemak perut yang berkaitan langsung dengan gangguan hormon dan ovulasi. Lalu apa hubungannya jika sudah ada lemak dalam perut ditambah dengan depresi?

Kita juga nggak bisa mengabaikan depresi, sister. Studi terbaru menunjukkan bahwa WWI yang tinggi berkorelasi dengan depresi, dan depresi itu sendiri bisa jadi penyebab maupun akibat dari infertilitas.

Bagaimana dampaknya pada Kesuburan?

Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita dengan indeks pinggang berbasis berat badan (WWI) yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami infertilitas sekunder. Nggak cuma itu, gejala depresi juga ditemukan berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan infertilitas. Menariknya lagi, depresi ternyata ikut berperan sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antara obesitas sentral (yang diukur dengan WWI) dan infertilitas sekunder. Artinya, faktor fisik dan psikologis saling terhubung dan nggak bisa dipisahkan begitu saja dalam isu kesuburan perempuan.

Artinya, meski angka mediasinya kecil, depresi memainkan peran psikologis yang signifikan dalam memperburuk kondisi infertilitas sekunder pada wanita dengan obesitas sentral.

Apa Artinya Ini Buat Pejuang Dua Garis

Dari fakta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan terhadap infertilitas sekunder nggak bisa hanya fokus pada fisik seperti berat badan atau hormon saja. Faktor psikologis, terutama depresi, perlu ditangani secara serius. Dengan begitu, intervensi medis dan gaya hidup yang menyasar obesitas bisa berjalan lebih efektif.

WWI menunjukkan kemampuan prediksi yang lebih baik dibanding indikator obesitas lainnya, bahkan dalam kelompok dengan BMI normal. Jadi, wanita dengan berat badan “normal” tapi punya WWI tinggi juga tetap berisiko mengalami infertilitas sekunder.

Infertilitas sekunder ternyata punya hubungan yang kompleks antara tubuh dan pikiran. WWI bisa menjadi alarm awal tentang risiko infertilitas, tapi menjaga kesehatan mental terutama mengelola depresi juga sama pentingnya, sister.

Kalau sister sedang menghadapi masalah ini, atau merasa stuck di tengah prosesnya, yuk jangan ragu untuk mulai evaluasi pola hidup, lingkar pinggang, dan kondisi emosional kamu juga. Karena ternyata, semuanya saling berkaitan. Tentu saja ini bisa banget dengan bantuan profesional seperti dokter ya sister! untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa folllow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Sun, F., Liu, M., Hu, S., Xie, R., Chen, H., Sun, Z., & Bi, H. (2024). Associations of weight-adjusted-waist index and depression with secondary infertility. Frontiers in endocrinology, 15, 1330206.
  • https://www.alodokter.com/obesitas#:~:text=Pengertian%20Obesitas,jantung%2C%20hipertensi%2C%20hingga%20diabetes.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, infertilitas, Weight-Adjusted Waist Index

Gak Harus Operasi! Ini Alternatif Aman Atasi Kista Endometrium

April 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Kista menjadi salah satu masalah yang cukup sering dialami pasangan, dan umumnya ditangani lewat tindakan operasi. Tapi seiring berkembangnya teknologi medis, kini hadir berbagai terobosan baru termasuk untuk mengatasi masalah kesuburan akibat kista. Nah, MDG bakal kupas lebih lanjut soal ini. Baca sampai habis, ya! sebelum itu kita pahami dulu apa itu kista endometrium

Kista Endometrium Itu Apa, Sih?

Kista endometrium atau yang sering disebut “endometrioma” adalah salah satu bentuk dari endometriosis yang muncul di ovarium. Di dalamnya, ada jaringan mirip lapisan rahim yang ikut ‘nyasar’ ke tempat lain dan mengisi kista dengan darah lama. Masalahnya, kista ini bisa mengganggu sel telur di sekitarnya dan menurunkan cadangan ovarium. 

Padahal, buat sister dan paksu yang masih ingin punya anak, cadangan ovarium itu penting banget. Nah dalam beberapa prosedur hal ini dapat ditindaklanjuti melalui operasi, namun cara terbaru ada yang juga yang sudah tidak menggunakan prosedur invasif.

Yuk Kenalan Sama Skleroterapi Etanol

Salah satu cara yang makin dilirik buat ngatasin kista ini adalah skleroterapi etanol transvaginal. Bagaimana prosedur ini dilakukan? jadi prosedurnya cukup sederhana: isi kista disedot, lalu dimasukkan cairan etanol medis ke dalamnya lewat jalur vagina. Tujuannya? Biar kista ‘menyusut’ dan nggak aktif lagi. Yang bikin metode ini menarik, karena nggak perlu operasi besar dan bisa lebih ramah ke jaringan ovarium yang sehat.

Dari berbagai laporan kasus dan pengalaman klinis, prosedur ini punya tingkat efek samping yang rendah. Gejala nyeri bisa jauh berkurang, dan yang paling penting, jadi metode ini nggak banyak mengganggu cadangan ovarium. 

Bagaimana Dampak di Masa Depan?

Nah, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan kista muncul lagi. Itu bisa dipengaruhi oleh berapa lama etanol dibiarkan di dalam kista saat prosedur. Jadi, teknik dan durasi jadi kunci penting buat keberhasilan jangka panjang.

Prosedur Skleroterapi ini bisa jadi pilihan sister dan paksu yang mau menghindari operasi besar, khawatir dengan cadangan ovarium, masih ingin program hamil ke depannya,
punya kista endometrium yang mengganggu tapi pengen solusi yang minim invasif

Skleroterapi etanol transvaginal hadir sebagai salah satu pilihan aman dan minim risiko buat sister yang lagi berjuang dengan kista endometrium. Tapi tetap ya, diskusi bareng dokter itu penting, biar bisa pilih metode yang paling cocok sesuai kondisi tubuh dan rencana masa depan sister. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Frankowska, K., Dymanowska-Dyjak, I., Abramiuk, M., & Polak, G. (2024). The Efficacy and Safety of Transvaginal Ethanol Sclerotherapy in the Treatment of Endometrial Cysts—A Systematic Review. International journal of molecular sciences, 25(2), 1337.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: invasif, kista, oprasi, ovarium

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 54
  • Page 55
  • Page 56
  • Page 57
  • Page 58
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.