• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

hormon

Mengenal PCOS: Gangguan Hormonal yang Sering Tak Disadari

August 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi salah satu gangguan hormonal yang cukup sering dialami perempuan usia reproduktif. Meski umum terjadi, kondisi ini masih sering kurang dikenali, jarang terdiagnosis, dan minim penelitian terutama di negara berkembang.

PCOS pertama kali diperkenalkan oleh Stein dan Leventhal pada tahun 1935. Hingga kini, PCOS dikenal sebagai penyebab utama hiperandrogenisme (kelebihan hormon androgen) dan oligo-ovulasi (ovulasi tidak teratur). Keduanya berperan besar terhadap masalah infertilitas pada perempuan.

Bagaimana PCOS Terjadi?

PCOS disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon seks yang memengaruhi fungsi ovarium. Akibatnya, folikel yang seharusnya berkembang menjadi sel telur matang justru berubah menjadi kista fungsional kantung berisi cairan yang membungkus sel telur. Kondisi ini menghambat pelepasan sel telur (ovulasi), sehingga peluang kehamilan menjadi lebih kecil.

Perempuan dengan PCOS bukan hanya menghadapi kesulitan untuk hamil, tetapi juga berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi saat kehamilan, seperti: Keguguran (miscarriage), Diabetes gestasional, Hipertensi dalam kehamilan, Preeklamsia. Karena kondisi tersebut, banyak perempuan dengan PCOS harus menjalani persalinan prematur atau operasi caesar.

Seberapa Banyak Perempuan yang Terkena PCOS?

Prevalensi PCOS bervariasi, tergantung kriteria diagnosis yang digunakan. Dengan Rotterdam Criteria, angka kejadian PCOS dilaporkan bisa serendah 1,6% hingga setinggi 18% bahkan dalam populasi yang sama.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 50–75% perempuan dengan PCOS tidak menyadari kondisinya. Mereka tetap hidup dengan gejala tanpa diagnosis yang jelas, padahal deteksi dini bisa sangat membantu dalam mencegah komplikasi jangka panjang.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda dan gejala PCOS antara lain:

  • Siklus menstruasi tidak teratur atau jarang haid
  • Pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme)
  • Jerawat membandel
  • Berat badan berlebih atau obesitas
  • Kesulitan hamil

Karena PCOS sangat kompleks, penanganannya tidak bisa satu arah. Perawatan biasanya mencakup:

  • Perubahan gaya hidup sehat (diet seimbang, olahraga teratur, manajemen berat badan)
  • Pendekatan medis seperti obat penyubur atau pengaturan hormon
  • Dukungan mental dan psikologis, karena PCOS sering berdampak pada kualitas hidup
  • Teknologi reproduksi berbantu bila dibutuhkan


PCOS adalah kondisi kompleks yang memengaruhi kesuburan, kesehatan metabolik, hingga kualitas hidup perempuan. Karena banyak kasus tidak terdiagnosis, penting bagi perempuan untuk lebih mengenali tanda-tandanya dan melakukan pemeriksaan sejak dini. Penanganan yang tepat, baik dengan gaya hidup sehat maupun terapi medis, dapat membantu sister dengan PCOS tetap memiliki peluang besar untuk hamil dan hidup sehat.

Referensi

  • Bai, H., Ding, H., & Wang, M. (2024). Polycystic ovary syndrome (PCOS): symptoms, causes, and treatment. Clinical and Experimental Obstetrics & Gynecology, 51(5), 126.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gangguan, gangguan kesuburan wanita, hormon, PCOS

Bukan Cuma Rahim dan Hormon, Mikrobiota Juga Punya Peran!

June 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Kalau selama ini kita mikir soal kesuburan cuma sebatas rahim, ovarium, atau hormon ternyata ada bagian lain dari tubuh yang diam-diam punya peran penting ini berkaitan dengan mikrobiota! Yuk bahas lebih lanjut!

Jadi apa Itu Mikrobiota
Sebelum itu pahami dulu yuk apa itu mikrobiota, jadi ia adalah kumpulan bakteri baik (dan kadang jahat juga) yang hidup di berbagai bagian tubuh, termasuk usus dan area kewanitaan. Mereka punya tugas masing-masing, mulai dari bantu pencernaan sampai jaga sistem imun.

Jadi kehadirannya sangat penting, lalu bagaimana jika keseimbangan bakteri ini juga bisa ngaruh ke kesuburan perempuan.

Fungsi Mikrobiota dan Kesehatan Reproduksi

Pada proses reproduksi jika mikroba di usus atau vagina terganggu, misalnya karena stres, pola makan nggak sehat, atau infeksi bisa muncul berbagai masalah. Nggak cuma gangguan pencernaan, tapi juga masalah di area reproduksi seperti:

  • Endometriosis

  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

  • Nyeri panggul yang nggak jelas penyebabnya

  • Bahkan infertilitas alias susah hamil

Nah, disinilah probiotik dapat menjadi solusi dari kasus ini. Probiotik adalah bakteri baik yang bisa bantu “menyeimbangkan” mikrobiota dalam tubuh. Banyak yang percaya, kalau mikrobiota kembali sehat, tubuh pun jadi lebih siap untuk hamil.

Tapi bukan berarti semua langsung cocok ya. Efek probiotik bisa beda-beda tergantung kondisi tubuh, jenis bakteri yang dikonsumsi, dan cara mengkonsumsinya ada dua baik oral atau langsung ke area vagina.

Apa yang dapat kita Lakukan untuk Menjaga Pencernaan

Meskipun dunia medis masih terus belajar soal ini, satu hal sudah jelas: menjaga kesehatan usus dan vagina itu penting. Beberapa hal simpel yang bisa dilakukan antara lain dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah gula, mengurangi stres, menjaga kebersihan area kewanitaan tanpa produk yang berlebihan, dan tentu saja, pada langkah yang lebih lanjut, berkonsultasi dengan dokter. Karena masalah kesuburan itu kadang dimulai dari hal-hal yang kita anggap sepele seperti urusan bakteri di usus dan vagina. Informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Favaron, A., Turkgeldi, E., Elbadawi, M., Gaisford, S., Basit, A. W., & Orlu, M. (2024). Do probiotic interventions improve female unexplained infertility? A critical commentary. Reproductive BioMedicine Online, 48(4), 103734.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormon, mikrobiota usus, mikrobiota vagina, ovarium

SERM untuk Endometriosis: Harapan Baru atau Masih Sekadar Wacana?

June 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister dan paksu pasti pernah dengar salah satu penyebab infertilitas yaitu endometriosis. Infertilitas ini tentu lebih tidak asing buat banyak perempuan, apalagi yang sering mengalami nyeri haid hebat atau dispareunia (nyeri saat berhubungan intim). 

Penyakit ini terjadi saat jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim malah tumbuh di luar rahim. Kondisi ini kronis, berulang, dan bisa jadi biang masalah kesuburan. Nah kira-kira ada tidak ya penanganan yang tepat? Yuk pahami lebih lanjut!

SERM untuk Endometriosis

Kita tahu bahwa selama ini, pengobatan endometriosis umumnya fokus pada penekanan siklus menstruasi untuk meredakan gejala. Tapi, seiring berkembangnya penelitian, muncullah harapan baru seperti selective oestrogen receptor modulators  (SERM). Obat ini digadang-gadang bisa menargetkan hormon estrogen biang keladi utama dalam pertumbuhan jaringan endometriosis.

Nah karena endometriosis bergantung pada estrogen, para peneliti ingin tahu: bisakah SERM bekerja efektif untuk mengontrol gejala dan perkembangan endometriosis? 

Hasil studi menunjukkan bahwa raloxifene belum memberikan harapan yang meyakinkan dalam penanganan endometriosis; nyeri panggul justru lebih cepat kambuh dibanding plasebo, tidak ada bukti kuat terkait penurunan gejala lain seperti kista ovarium, sakit kepala, atau depresi, dan kualitas hidup mental malah lebih baik pada kelompok plasebo. Selain itu, tingkat kekambuhan endometriosis dan dampak terhadap kesuburan maupun biaya pengobatan masih belum jelas karena keterbatasan data dan hanya berasal dari satu studi kecil dengan kualitas bukti sangat rendah.

Jadi SERM faktanya belum bisa digunakan sebagai pengobatan efektif, lalu apa yang dapat dilakukan?

Penanganan endometriosis 

Saran seperti yang kutip oleh aladokter.com pengobatan bisa meliputi obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan diklofenak, serta terapi hormon yang bekerja dengan menekan produksi estrogen, seperti pil KB, Gn-RH analog, progestogen, hingga danazol. 

Terapi ini efektif mengontrol gejala, namun bisa menimbulkan efek samping seperti perubahan suasana hati dan berat badan. Bila gejala tak membaik, dokter dapat menyarankan operasi, mulai dari laparoskopi (operasi minimal invasif), laparotomi (sayatan besar), hingga histerektomi (pengangkatan rahim), tergantung pada tingkat keparahan dan rencana kesuburan pasien. 

Catatan buat sister yang sedang berjuang dengan endometriosis, setiap tubuh itu unik. Apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu cocok untuk yang lain. Diskusikan semua pilihan pengobatan dengan dokter dan jangan ragu untuk mencari second opinion. Baca informasi menarik lainnya di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Van Hoesel, M. H., Chen, Y. L., Zheng, A., Wan, Q., & Mourad, S. M. (2021). Selective oestrogen receptor modulators (SERMs) for endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews, (5).
  • https://www.alodokter.com/endometriosis/pengobatan

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Beda Endometriosis dan Adenomiosis, endometriosis, hormon, SERM

Mengenal Konsep “Dual Trigger” untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan di Program IVF

April 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Kalau kita bicara soal program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization), salah satu langkah penting yang harus dilalui adalah proses pematangan sel telur (oosit). Sister dan paksu yang sedang menjalani program IVF pasti sudah familiar dimana dokter biasanya menggunakan suntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) untuk membantu sel telur matang sempurna dan siap dibuahi. hCG ini bekerja meniru lonjakan alami hormon LH (Luteinizing Hormone) dalam tubuh, yang normalnya terjadi saat masa subur.

Tapi, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, ditemukan bahwa penggunaan hCG saja punya risiko, salah satunya adalah meningkatkan kemungkinan terjadinya OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan ternyata kondisi berbahaya akibat ovarium yang terlalu bereaksi terhadap obat.

Wah lalu Langkah Selanjutnya Bagaimana? Baca Sampai Habis Yuk!

Sebagai alternatif, digunakanlah pemicu lain, yaitu agonis GnRH (GnRHa). Ini adalah hormon yang bisa mendorong pelepasan LH dan FSH secara alami dari tubuh, membuat prosesnya lebih mirip dengan mekanisme normal. Namun, penggunaan GnRHa tunggal ternyata punya kekurangan: korpus luteum (bagian ovarium yang penting untuk mempertahankan kehamilan awal) menjadi kurang optimal, sehingga peluang embrio menempel di rahim bisa menurun. Dari situ, muncullah ide baru yaitu melalui Dual Trigger.

Apa itu Dual Trigger?

Dual trigger adalah kombinasi antara suntikan GnRHa dan hCG dalam satu waktu. Tujuannya adalah mengambil manfaat terbaik dari keduanya: menjaga keamanan dengan mengurangi risiko OHSS (berkat efek GnRHa) sekaligus tetap menjaga kondisi rahim dan mendukung keberhasilan implantasi embrio (berkat bantuan hCG).

Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam tubuh normal, menjelang ovulasi, terjadi lonjakan besar hormon LH dan sedikit FSH. Kedua hormon ini berperan mematangkan sel telur dan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Kalau hanya menggunakan hCG, tubuh tidak mendapatkan lonjakan FSH yang alami itu. Sementara dengan GnRHa, lonjakan FSH bisa terjadi, tapi karena efeknya cepat hilang, korpus luteum kurang stabil.

Dengan dual trigger, tubuh mendapatkan lonjakan LH dan FSH alami dari GnRHa, ditambah dukungan stabil dari hCG untuk mempertahankan kondisi ideal setelah ovulasi. Kombinasi ini membuat peluang keberhasilan IVF meningkat, apalagi untuk pasien yang sebelumnya sulit mendapatkan sel telur matang atau yang respons tubuhnya terhadap pemicu biasa kurang optimal.

Siapa yang Cocok Menggunakan Dual Trigger?

Metode ini terutama disarankan untuk pasien yang sebelumnya mengalami jumlah sel telur matang rendah. Pasien yang respons tubuhnya kurang bagus terhadap pemicu standar.
dan Pasien dengan risiko sedang hingga tinggi untuk mengalami OHSS, namun tetap ingin melakukan transfer embrio segar. Dengan dual trigger, pasien-pasien ini memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan jumlah sel telur matang yang cukup, kualitas embrio yang bagus, dan tentu saja meningkatkan kemungkinan kehamilan.

Teknik dual trigger menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia IVF. Dengan memadukan kelebihan dua jenis hormon, metode ini menawarkan pendekatan yang lebih alami dan seimbang, sekaligus membantu mengurangi risiko komplikasi. Jadi, kalau sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program IVF, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter tentang kemungkinan menggunakan dual trigger sebagai bagian dari strategi menuju kehamilan yang sukses. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Victoria Antoniou, E. M. J. (2024). Does Dual and/or Double Trigger Improve In Vitro Fertilisation Success?. Reproductive Health.
  • https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/hormon-gnrh/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dual Trigger, hormon, IVF, kehamilan

Apakah Dosis FSH yang Disesuaikan Secara Individual dapat Meningkatkan Peluang Kehamilan?

April 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu MDG pernah membahas bagaimana hormon yang diberikan saat IVF bisa berpengaruh ke kesehatan mental. Nah, dalam program bayi tabung (IVF/ICSI), perempuan diberikan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) setiap hari untuk merangsang ovarium supaya menghasilkan lebih banyak sel telur. Targetnya, sekitar 5 sampai 15 oosit (sel telur) dalam satu siklus.

Tapi, tidak semua perempuan merespons obat ini dengan cara yang sama. Respons terlalu rendah bisa bikin jumlah dan kualitas sel telur tidak mencukupi. Sebaliknya, respons terlalu tinggi malah bisa memicu sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), kondisi yang cukup berisiko. Kedua situasi ini sama-sama bisa menyebabkan siklus IVF dibatalkan, lho.

Cara Menyesuaikan Dosis FSH

Awalnya, dosis FSH diberikan berdasarkan usia saja. Tapi sekarang, pendekatan lebih personal mulai digunakan. Dosis bisa disesuaikan berdasarkan Hormon Anti-Müllerian (AMH), Jumlah Folikel Antral (AFC), Kadar FSH di hari ke-2 atau ke-3 haid (bFSH). Pendekatan ini dikenal sebagai strategi berbasis tes cadangan ovarium atau ovarian reserve test (ORT).

Sebuah tinjauan Cochrane terbaru di tahun 2023 yang mencakup 26 studi dengan lebih dari 8500 wanita membahas tentang ini. Studi-studi ini membandingkan berbagai strategi pemberian dosis FSH, baik yang disesuaikan secara individual maupun yang standar.

Hasilnya bagaimana? bahwa Mengatur dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) mungkin tidak terlalu banyak meningkatkan peluang untuk mendapatkan kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan dosis standar. Namun, pendekatan berbasis ORT bisa membantu mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) yang tingkatnya sedang atau berat. Untuk risiko OHSS berat saja, masih belum ada cukup bukti yang bisa memberikan kesimpulan pasti. Kalau biasanya peluang kehamilan dengan dosis standar ada di angka 25%, pendekatan berbasis ORT bisa sedikit menaikkan peluang itu menjadi 25%–31%. Sedangkan untuk risiko OHSS sedang atau berat, pendekatan ini bisa menurunkan angka kejadian dari 5% menjadi sekitar 2%–5%. 

Meskipun menjanjikan, penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium belum terbukti secara meyakinkan meningkatkan hasil kehamilan. Namun, strategi ini berpotensi menurunkan risiko komplikasi seperti OHSS. Penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) memang menawarkan pendekatan yang lebih personal dalam program IVF/ICSI. 

Namun, dari hasil tinjauan studi terbaru, strategi ini belum terbukti secara kuat mampu meningkatkan peluang kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan pemberian dosis standar. Meskipun begitu, penggunaan ORT tetap punya manfaat, yaitu berpotensi mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) sedang hingga berat. 

Jadi sister dan paksu melalui penjabaran ini dapat dipahami secara keseluruhan bahwa pendekatan berbasis ORT mungkin lebih berguna untuk meningkatkan keamanan siklus IVF daripada secara langsung meningkatkan peluang kehamilan. Bagaimana menarik bukan? tapi tetap saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter selama menjalankan program IVF. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Ngwenya, O., Lensen, S. F., Vail, A., Mol, B. W. J., Broekmans, F. J., & Wilkinson, J. (2024). Individualised gonadotropin dose selection using markers of ovarian reserve for women undergoing in vitro fertilisation plus intracytoplasmic sperm injection (IVF/ICSI). Cochrane Database of Systematic Reviews, (1).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, hormon, ICSI, IVF

Ternyata ada hormon yang digadang-gadang Mendorong suksesi IVF

March 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, kalau lagi menjalani program bayi tabung atau ingin tahu info lebih banyak mengenai ada nggak sih faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, yuk bahas soal Hormon Pelepas Kortisol (CRH)! Kenapa membahas ini, karena hormon CRH yang digadang-gadang menjadi suksesi IVF

CRH dan Hormon dalam Cairan Folikel

CRH adalah hormon yang ditemukan dalam cairan folikel, yaitu cairan yang mengelilingi sel telur di dalam ovarium. Folikel ovarium sendiri adalah kantong kecil berisi cairan yang berfungsi sebagai tempat perkembangan sel telur. Selain itu, folikel juga menghasilkan hormon seperti estrogen dan progesteron, yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi.

Saat seorang wanita mencapai pubertas, ia memiliki sekitar 300.000 hingga 400.000 folikel, masing-masing berpotensi melepaskan sel telur yang siap dibuahi. Jumlah dan ukuran folikel menjadi faktor penting dalam penilaian serta pengobatan gangguan kesuburan.

Lalu, bagaimana proses perkembangan folikel ini?

Setiap siklus menstruasi, beberapa folikel mulai berkembang dari ukuran awal sekitar 0,025 mm. Biasanya, seorang wanita akan mengembangkan sekitar lima hingga enam folikel dalam satu siklus. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh berbagai hormon, terutama hormon perangsang folikel (FSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. FSH berperan dalam mematangkan folikel serta menghambat pertumbuhan folikel yang lebih kecil, sehingga hanya folikel yang lebih kuat yang dapat berkembang dengan baik.

Seiring pertumbuhannya, folikel mulai melepaskan lebih banyak estrogen. Peningkatan kadar estrogen ini kemudian memberi sinyal kepada kelenjar pituitari untuk mengurangi produksi FSH. Akibatnya, folikel yang lebih kecil berhenti tumbuh, sementara folikel yang lebih besar dan matang terus berkembang, hingga akhirnya siap untuk melepaskan sel telur dalam proses ovulasi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar CRH dalam cairan folikel bisa berhubungan dengan peluang keberhasilan siklus perawatan reproduksi berbantuan (ART), seperti fertilisasi in vitro (IVF) dan injeksi sperma intra-sitoplasma (ICSI).

Penelitian Menarik Tentang CRH dan ART oleh  Supramaniam, 2017 yang melalukan penelusuran prospektif terhadap 50 wanita yang menjalani IVF/ICSI, para peneliti menemukan bahwa kadar rata-rata CRH dalam cairan folikel adalah 173 ± 9 pg/mL. Nah, yang menarik adalah kadar CRH lebih dari 145 pg/mL ternyata berhubungan dengan keberhasilan ART yang lebih tinggi. Artinya, semakin tinggi kadar CRH dalam cairan folikel, peluang keberhasilannya juga lebih besar!

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Studi ini jadi pengingat kalau hormon dalam cairan folikel bisa berperan dalam menentukan keberhasilan ART. Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, temuan ini bisa membuka wawasan baru tentang bagaimana kita bisa meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung di masa depan.

Kalau sister lagi menjalani program IVF atau ICSI, memahami faktor-faktor seperti kadar CRH dalam cairan folikel bisa membantu untuk lebih siap menghadapi prosesnya. Tapi jangan khawatir, faktor kesuksesan ART itu banyak banget, jadi tetap konsultasi dengan dokter dan jangan lupa jaga kesehatan fisik serta mental ya!  Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Lim, L. N., Supramaniam, P. R., Mittal, M., Linton, E. A., & McVeigh, E. (2017). Follicular Fluid Cortisol Releasing Hormone (CRH) Levels and Assisted Reproductive Treatment (ART) Outcomes. Open Journal of Obstetrics and Gynecology, 7(13), 1271.
  • https://bocahindonesia.com/folikel-pada-sistem-reproduksi-wanita/
  • https://www.ivi.uk/blog/what-are-ovarian-follicles/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: folikel, hormon, IVF, perempuan

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.