• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kesuburan

Saat Kesuburan Pria Terganggu: Apa Dampaknya bagi Hati dan Pikiran?

July 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Masalah kesuburan seringkali dikira cuma urusan perempuan. Padahal, kenyataannya, hampir setengah dari kasus infertilitas juga melibatkan pihak pria. Meski laki-laki seringkali dibebankan sebagai pencari nafkah sehingga seringkali tidak terlihat jika mentalnya juga terganggu!

Padahal ternyata ketika seorang pria dinyatakan mengalami masalah kesuburan, ini bukan cuma soal hasil pemeriksaan medis tapi juga bisa mengguncang sisi emosional dan mental mereka. Artikel kali ini akan membahas tentang ini jadi baca sampai akhir ya!

Bagaimana Laki-laki yang Terdampak dengan Stigma Infertilitas

Laki-laki yang terserang infertilitas, mereka juga banyak yang merasakan kekecewaan yang mendalam hal ini disebabkan oleh tubuh sendiri nggak berfungsi seperti yang diharapkan. Banyak pria yang kemudian merasa gagal, minder, bahkan mempertanyakan harga dirinya sebagai laki-laki.

Perasaan seperti sedih, kecewa, cemas, atau marah bisa muncul begitu saja. Tapi sayangnya, nggak semua pria merasa nyaman untuk mengungkapkan itu. Budaya kita cenderung menuntut laki-laki untuk “kuat” dan “tegar”, padahal di dalam hati mereka bisa saja sedang goyah.

Lalu Sikap Apa yang Sebaiknya diAmbil?

Mengetahui penyebab infertilitas memang penting untuk pengobatan, tapi dalam prosesnya, menyalahkan salah satu pihak justru memperburuk keadaan. Karena nyatanya, baik pria yang punya gangguan kesuburan maupun pria yang pasangannya mengalami gangguan serupa, sama-sama bisa merasakan tekanan mental yang besar.

Infertilitas bukan hanya masalah fisik tapi juga pengalaman emosional yang kompleks. Dan siapa pun bisa merasa terbebani oleh hal ini, apapun penyebabnya.

Sering kali, pria merasa harus menyembunyikan emosi demi menjaga pasangan. Tapi justru di situlah letak bahayanya. Emosi yang dipendam bisa berubah jadi stres berkepanjangan, bahkan gangguan mental seperti depresi atau kecemasan.

Itulah kenapa penting bagi kita semua untuk lebih peka dan terbuka. Pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis sebaiknya memberi ruang bagi pria untuk bercerita. Menyediakan dukungan emosional, bukan hanya fokus pada solusi medis.

Yang tidak kalah penting paksu juga membutuhkan Konseling, komunitas, atau sekadar percakapan yang hangat bisa jadi bentuk dukungan yang berarti. Karena mereka juga butuh tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Menghadapi masalah kesuburan memang tidak mudah. Tapi dengan dukungan yang tepat, proses ini bisa dilalui dengan lebih kuat secara fisik maupun mental. Karena pada akhirnya, perjuangan untuk punya anak bukan hanya soal tubuh, tapi juga soal keberanian untuk terus berharap… dan saling menguatkan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Biggs, S. N., Halliday, J., & Hammarberg, K. (2024). Psychological consequences of a diagnosis of infertility in men: a systematic analysis. Asian journal of andrology, 26(1), 10-19.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesehatan mental, kesuburan, laki-laki, Pikiran

HPV dan Dampaknya pada Kesuburan: Sebuah Tinjauan Komprehensif

June 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infeksi Human Papillomavirus (HPV) adalah masalah kesehatan global yang umum di antara pria dan wanita usia produktif. Virus ini tidak hanya terkait dengan lesi epitel dan kanker, tetapi juga memiliki hubungan yang signifikan dengan berbagai efek merugikan pada fungsi reproduksi. MDG akan membahas secara mendalam bagaimana infeksi HPV, khususnya tipe risiko tinggi (HR HPV), dapat memengaruhi setiap tahap reproduksi manusia.

HPV dan Kesuburan

Infeksi HPV, terutama oleh High-Risk Human Papillomavirus (HR HPV), telah terbukti memengaruhi berbagai tahapan reproduksi, menyebabkan serangkaian hasil yang tidak menguntungkan. Dampak-dampak ini mencakup:

  1. Penurunan Kesuburan Pria (Infertilitas Pria): Infeksi HPV pada semen dapat menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif pada sperma, mengurangi potensi fertilisasinya.Sel sperma yang terinfeksi HPV bahkan dapat mentransfer virus ke plasenta dan sel telur.
  2. Gangguan Kesuburan Pasangan: Infeksi HPV dapat meningkatkan apoptosis blastokista dan mengurangi implantasi sel trofoblas pada endometrium, yang pada akhirnya mengganggu kesuburan pasangan.
  3. Cacat Perkembangan Embrio dan Janin: HPV juga terkait dengan peningkatan risiko keguguran spontan dan kelahiran prematur, menunjukkan dampak serius pada perkembangan embrio dan janin.

Meskipun mekanisme molekuler pasti bagaimana infeksi HPV terlibat dalam masalah ini masih belum sepenuhnya jelas, HPV-terkait infertilitas dapat dilihat sebagai Janus, dewa berwajah dua. Satu sisi mencerminkan respons kekebalan anti-HPV, sementara sisi lain menunjukkan efek patogenik langsung dari HPV, khususnya HR HPV, pada sel yang terinfeksi/bereplikasi.

Peran Respons Imun dan Harapan dari Vaksinasi

Baik infertilitas pria maupun wanita juga dapat disebabkan oleh respons kekebalan anti-HPV yang terbentuk selama infeksi alami. Respons ini dapat memediasi pembersihan spermatozoa, oosit, blastula, dan blastokista yang terinfeksi HPV, bahkan hingga penolakan embrio yang terinfeksi HPV (penyakit graft-versus-host maternal terhadap janin yang terinfeksi HPV). Lalu apa solusinya?

Hal ini dapat diupayakan agar terhindar dari HPV, salah satunya melalui vaksinasi HPV dengan melakukan vaksinasi dapat mencegah jenis infertilitas ini, dan bahkan berpotensi membalikkan dampaknya bagi mereka yang sudah terinfeksi HPV. Pencegahan ini menjadi kunci untuk menjaga kesehatan reproduksi di masa depan.

HPV bukan hanya ancaman serius terhadap risiko kanker, tetapi juga memainkan peran signifikan dalam masalah infertilitas pada pria dan wanita. Memahami mekanisme kompleks di balik dampak HPV pada kesuburan sangat penting untuk pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif. Dengan terus meningkatkan kesadaran dan akses terhadap vaksinasi HPV, kita dapat melindungi generasi mendatang dari dampak merugikan virus ini pada kesuburan dan kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Tapi sebelum melakukan vaksinasi HPV harus ada yang sister dan paksu perhatikan. Karena Vaksin yang berperan untuk mencegah virus HPV penyebab kanker serviks ini tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Jika vaksin HPV telah sempat diberikan sebelum hamil, pemberian sisa dosis vaksin pun dapat ditunda hingga melahirkan. Jadi jangan lupa tetap harus berkonsultasi dengan dokter ya sister!

Referensi

  • Isaguliants, M., Krasnyak, S., Smirnova, O., Colonna, V., Apolikhin, O., & Buonaguro, F. M. (2021). Genetic instability and anti-HPV immune response as drivers of infertility associated with HPV infection. Infectious agents and cancer, 16(1), 29.
  • https://www.alodokter.com/jangan-salah-kenali-vaksin-yang-diperbolehkan-dan-dilarang-saat-hamil#:~:text=Vaksin%20yang%20berperan%20untuk%20mencegah,tidak%20dianjurkan%20bagi%20ibu%20hamil.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: HPV, infertilitas, kesuburan, laki-laki, perempuan, vaksin

Infertilitas Pria: Mengupas Dampak Fragmentasi DNA Sperma pada Keberhasilan Program Bayi Tabung

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.

Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?

DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.

DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)

Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:

  1. Peluang Melahirkan Anak
    Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup.

  2. Risiko Keguguran
    Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah.

  3. Kualitas Embrio
    Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan.

  4. Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
    Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.

Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.

Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DFI, DNA, infertilitas, kesuburan, laki-laki, Pria, sperma

Gerak Sperma Dipetakan AI: t-SNE Tunjukkan Potensi Diagnosis Kesuburan

May 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernah nggak sih, sister, kepikiran bahwa cara sperma bergerak bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui peluang kehamilan?

Nah, sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang modern banget yaitu dengan menggunakan kecerdasan buatan dan statistik canggih untuk memahami pergerakan sperma dan ternyata hasilnya cukup menjanjikan.

Pahami Hubungan antara Motilitas Sperma dan Kesuburan

Jadi yang perlu sister dan paksu ketahui bahwa sperma yang sehat dapat bergerak maju dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Sedangkan, sperma lambat didiagnosis ketika sperma yang bergerak efisien berjumlah kurang dari 32 persen. Sehingga tidak heran jika motilitas atau pergerakan sperma ini sangat berpengaruh pada keberhasilan program hamil kalian.

 Pada kasus motilitas ini masuk pada Asthenozoospermia yang merupakan kondisi ketika sebagian besar sel sperma memiliki gerakan yang tidak normal. Meski bisa menyebabkan kemandulan, kondisi ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Nah peneliti sudah banyak melakukan percobaan salah satunya pada hewan dalam melihat pergerakan sperma.

Machine Learning untuk Deteksi Sperma 

Penggunaan sampling sperma babi (yes, babi sering dipakai dalam penelitian karena sistem reproduksinya mirip manusia). Mereka ingin tahu apakah cara sperma bergerak bisa dipetakan untuk memprediksi apakah seekor pejantan punya tingkat kesuburan tinggi atau tidak.

Hal ini yang digunakan adalah t-SNE, salah satu teknik machine learning yang bisa “memetakan” pola atau perilaku kompleks, termasuk dalam hal ini: variasi gerak sperma. Gerakannya nggak hanya dilihat cepat atau lambat, tapi juga apakah lurus, berputar, atau acak.

Setelah semua data diolah, para peneliti pakai metode statistik canggih bernama Bayesian logistic regression untuk memprediksi kemungkinan seekor pejantan subur atau tidak, berdasarkan pola gerak spermanya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa:

  • Sperma yang bergerak cepat dan lurus ternyata lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan yang tinggi.

  • Variasi dalam gerakan sperma memang ada, tapi bukan semuanya penting. Yang paling relevan adalah pola gerak efisien dan terarah.

Walaupun ini masih studi pada hewan, tapi pendekatan ini bisa banget diterapkan untuk penelitian kesuburan manusia juga, lho! Dengan teknologi ini, dokter bisa lebih akurat menilai kualitas sperma secara otomatis, bukan hanya dilihat manual di bawah mikroskop.

Dan tentunya, ini membuka peluang baru untuk diagnosis dan penanganan masalah infertilitas pria di masa depan.

Referensi

  • Fernández-López, P., Garriga, J., Casas, I., Yeste, M., & Bartumeus, F. (2022). Predicting fertility from sperm motility landscapes. Communications biology, 5(1), 1027.
  • https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/penyebab-pergerakan-sperma-lambat-yang-ganggu-kesuburan-pria

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecepatan, kesuburan, laki-laki, motilitas, sperma

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

Pahami Apa Itu Subpopulasi Sperma dan Mengapa Penting untuk Kesuburan

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, banyak yang mengira kalau sperma dalam satu ejakulasi itu seragam semuanya berenang bareng, bentuknya mirip, dan punya tujuan yang sama: membuahi sel telur. Tapi pandangan itu ternyata sudah lama ditinggalkan. Dunia ilmu pengetahuan sekarang tahu, di balik satu tetes cairan ejakulasi, tersembunyi keragaman yang luar biasa. Bukan cuma sekadar ada sperma yang bagus dan sperma yang rusak. Tapi bahkan sperma yang tampaknya “normal” pun ternyata punya keunikan masing-masing. Hal tersebut disebut sebagai subpopulasi sperma mulai dikenal.

Keragaman Sperma dalam Ejakulasi

Para peneliti sejak akhir tahun 1970-an mulai menyadari bahwa sperma tidak bisa dianggap sebagai kelompok yang homogen. Bahkan dalam satu sampel yang tampak sehat, ada perbedaan yang signifikan antar sperma mulai dari cara mereka bergerak, cara mereka menggunakan energi, hingga kandungan molekul di dalamnya. Misalnya, ada sperma yang lebih aktif karena mitokondrianya bekerja lebih efisien, sementara yang lain punya cadangan energi berbeda. 

Ada juga sperma yang sudah mengalami perubahan fisiologis yang membuatnya siap membuahi sel telur (disebut sudah mengalami kapasitasi), sementara yang lain belum siap. Bahkan komposisi membran luar sperma, saluran ion, dan protein yang menempel pun bisa berbeda-beda. Ini artinya, dua sperma yang tampak sama di mikroskop, belum tentu punya potensi yang sama secara fungsional. Wah bisa begitu ya? menarik ngga si paksu?

Pentingnya Memahami Subpopulasi Sperma

Mengapa penting untuk memahami adanya subpopulasi ini? jadi ternyata dalam konteks fertilitas, terutama dalam program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu lainnya, kita tidak cukup hanya menilai sperma dari jumlah, bentuk, atau geraknya saja. Bisa jadi, jumlahnya banyak dan bentuknya normal, tapi sebagian besar berasal dari subpopulasi yang kurang efisien dalam membuahi sel telur. 

Di sisi lain, ada kelompok kecil sperma yang punya kualitas molekuler tinggi dan peluang lebih besar untuk berhasil. Maka, dengan mengenali karakter tiap subpopulasi, kita bisa lebih cermat memilih sperma terbaik untuk proses pembuahan. Lalu dengan apa ini dapat dideteksi?

Teknologi untuk Mengidentifikasi Subpopulasi Sperma

Untuk mengidentifikasi subpopulasi ini, para ilmuwan kini menggunakan teknologi canggih. Salah satunya adalah analisis berbasis komputer yang bisa membaca pola gerak dan bentuk sperma secara otomatis dari ratusan hingga ribuan sel sekaligus. Selain itu, ada juga analisis molekuler dan sitometri alir yang memungkinkan kita melihat kandungan protein, RNA, atau bahkan tingkat fragmentasi DNA di dalam sperma satu per satu. Semakin berkembang teknologinya, semakin detail kita bisa memetakan “karakter” setiap sperma.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausa yang menemukan subpopulasi sperma dengan mitokondria aktif misalnya memiliki kualitas lebih baik dan banyak yang utuh, lebih sedikit kerusakan kromatin, dan lebih mampu berpartisipasi dalam perkembangan awal. Metode penyortiran berdasarkan aktivitas mitokondria terbukti lebih efektif dibandingkan metode klasik. Aktivitas mitokondria dapat dijadikan indikator yang kuat untuk menilai fungsionalitas sperma manusia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sperma ada kompetisi, keragaman, dan bahkan kerja sama antar subpopulasi yang membuat proses pembuahan menjadi kompleks. Dan dengan mengenal subpopulasi sperma ini lebih jauh, sister dan paksu sedang membuka pintu baru dalam pemahaman tentang kesuburan terutama pada paksu. 

Referensi

  • Martínez-Pastor, F. (2022). What is the importance of sperm subpopulations?. Animal Reproduction Science, 246, 106844.
  • Sousa, A. P., Amaral, A., Baptista, M., Tavares, R., Caballero Campo, P., Caballero Peregrin, P., … & Ramalho-Santos, J. (2011). Not all sperm are equal: functional mitochondria characterize a subpopulation of human sperm with better fertilization potential. PloS one, 6(3), e18112.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, sperma

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.