• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kesuburan

Infertilitas Pria: Mengupas Dampak Fragmentasi DNA Sperma pada Keberhasilan Program Bayi Tabung

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.

Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?

DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.

DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)

Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:

  1. Peluang Melahirkan Anak
    Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup.

  2. Risiko Keguguran
    Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah.

  3. Kualitas Embrio
    Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan.

  4. Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
    Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.

Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.

Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DFI, DNA, infertilitas, kesuburan, laki-laki, Pria, sperma

Gerak Sperma Dipetakan AI: t-SNE Tunjukkan Potensi Diagnosis Kesuburan

May 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernah nggak sih, sister, kepikiran bahwa cara sperma bergerak bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui peluang kehamilan?

Nah, sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang modern banget yaitu dengan menggunakan kecerdasan buatan dan statistik canggih untuk memahami pergerakan sperma dan ternyata hasilnya cukup menjanjikan.

Pahami Hubungan antara Motilitas Sperma dan Kesuburan

Jadi yang perlu sister dan paksu ketahui bahwa sperma yang sehat dapat bergerak maju dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Sedangkan, sperma lambat didiagnosis ketika sperma yang bergerak efisien berjumlah kurang dari 32 persen. Sehingga tidak heran jika motilitas atau pergerakan sperma ini sangat berpengaruh pada keberhasilan program hamil kalian.

 Pada kasus motilitas ini masuk pada Asthenozoospermia yang merupakan kondisi ketika sebagian besar sel sperma memiliki gerakan yang tidak normal. Meski bisa menyebabkan kemandulan, kondisi ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Nah peneliti sudah banyak melakukan percobaan salah satunya pada hewan dalam melihat pergerakan sperma.

Machine Learning untuk Deteksi Sperma 

Penggunaan sampling sperma babi (yes, babi sering dipakai dalam penelitian karena sistem reproduksinya mirip manusia). Mereka ingin tahu apakah cara sperma bergerak bisa dipetakan untuk memprediksi apakah seekor pejantan punya tingkat kesuburan tinggi atau tidak.

Hal ini yang digunakan adalah t-SNE, salah satu teknik machine learning yang bisa “memetakan” pola atau perilaku kompleks, termasuk dalam hal ini: variasi gerak sperma. Gerakannya nggak hanya dilihat cepat atau lambat, tapi juga apakah lurus, berputar, atau acak.

Setelah semua data diolah, para peneliti pakai metode statistik canggih bernama Bayesian logistic regression untuk memprediksi kemungkinan seekor pejantan subur atau tidak, berdasarkan pola gerak spermanya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa:

  • Sperma yang bergerak cepat dan lurus ternyata lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan yang tinggi.

  • Variasi dalam gerakan sperma memang ada, tapi bukan semuanya penting. Yang paling relevan adalah pola gerak efisien dan terarah.

Walaupun ini masih studi pada hewan, tapi pendekatan ini bisa banget diterapkan untuk penelitian kesuburan manusia juga, lho! Dengan teknologi ini, dokter bisa lebih akurat menilai kualitas sperma secara otomatis, bukan hanya dilihat manual di bawah mikroskop.

Dan tentunya, ini membuka peluang baru untuk diagnosis dan penanganan masalah infertilitas pria di masa depan.

Referensi

  • Fernández-López, P., Garriga, J., Casas, I., Yeste, M., & Bartumeus, F. (2022). Predicting fertility from sperm motility landscapes. Communications biology, 5(1), 1027.
  • https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/penyebab-pergerakan-sperma-lambat-yang-ganggu-kesuburan-pria

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecepatan, kesuburan, laki-laki, motilitas, sperma

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

Pahami Apa Itu Subpopulasi Sperma dan Mengapa Penting untuk Kesuburan

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, banyak yang mengira kalau sperma dalam satu ejakulasi itu seragam semuanya berenang bareng, bentuknya mirip, dan punya tujuan yang sama: membuahi sel telur. Tapi pandangan itu ternyata sudah lama ditinggalkan. Dunia ilmu pengetahuan sekarang tahu, di balik satu tetes cairan ejakulasi, tersembunyi keragaman yang luar biasa. Bukan cuma sekadar ada sperma yang bagus dan sperma yang rusak. Tapi bahkan sperma yang tampaknya “normal” pun ternyata punya keunikan masing-masing. Hal tersebut disebut sebagai subpopulasi sperma mulai dikenal.

Keragaman Sperma dalam Ejakulasi

Para peneliti sejak akhir tahun 1970-an mulai menyadari bahwa sperma tidak bisa dianggap sebagai kelompok yang homogen. Bahkan dalam satu sampel yang tampak sehat, ada perbedaan yang signifikan antar sperma mulai dari cara mereka bergerak, cara mereka menggunakan energi, hingga kandungan molekul di dalamnya. Misalnya, ada sperma yang lebih aktif karena mitokondrianya bekerja lebih efisien, sementara yang lain punya cadangan energi berbeda. 

Ada juga sperma yang sudah mengalami perubahan fisiologis yang membuatnya siap membuahi sel telur (disebut sudah mengalami kapasitasi), sementara yang lain belum siap. Bahkan komposisi membran luar sperma, saluran ion, dan protein yang menempel pun bisa berbeda-beda. Ini artinya, dua sperma yang tampak sama di mikroskop, belum tentu punya potensi yang sama secara fungsional. Wah bisa begitu ya? menarik ngga si paksu?

Pentingnya Memahami Subpopulasi Sperma

Mengapa penting untuk memahami adanya subpopulasi ini? jadi ternyata dalam konteks fertilitas, terutama dalam program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu lainnya, kita tidak cukup hanya menilai sperma dari jumlah, bentuk, atau geraknya saja. Bisa jadi, jumlahnya banyak dan bentuknya normal, tapi sebagian besar berasal dari subpopulasi yang kurang efisien dalam membuahi sel telur. 

Di sisi lain, ada kelompok kecil sperma yang punya kualitas molekuler tinggi dan peluang lebih besar untuk berhasil. Maka, dengan mengenali karakter tiap subpopulasi, kita bisa lebih cermat memilih sperma terbaik untuk proses pembuahan. Lalu dengan apa ini dapat dideteksi?

Teknologi untuk Mengidentifikasi Subpopulasi Sperma

Untuk mengidentifikasi subpopulasi ini, para ilmuwan kini menggunakan teknologi canggih. Salah satunya adalah analisis berbasis komputer yang bisa membaca pola gerak dan bentuk sperma secara otomatis dari ratusan hingga ribuan sel sekaligus. Selain itu, ada juga analisis molekuler dan sitometri alir yang memungkinkan kita melihat kandungan protein, RNA, atau bahkan tingkat fragmentasi DNA di dalam sperma satu per satu. Semakin berkembang teknologinya, semakin detail kita bisa memetakan “karakter” setiap sperma.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausa yang menemukan subpopulasi sperma dengan mitokondria aktif misalnya memiliki kualitas lebih baik dan banyak yang utuh, lebih sedikit kerusakan kromatin, dan lebih mampu berpartisipasi dalam perkembangan awal. Metode penyortiran berdasarkan aktivitas mitokondria terbukti lebih efektif dibandingkan metode klasik. Aktivitas mitokondria dapat dijadikan indikator yang kuat untuk menilai fungsionalitas sperma manusia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sperma ada kompetisi, keragaman, dan bahkan kerja sama antar subpopulasi yang membuat proses pembuahan menjadi kompleks. Dan dengan mengenal subpopulasi sperma ini lebih jauh, sister dan paksu sedang membuka pintu baru dalam pemahaman tentang kesuburan terutama pada paksu. 

Referensi

  • Martínez-Pastor, F. (2022). What is the importance of sperm subpopulations?. Animal Reproduction Science, 246, 106844.
  • Sousa, A. P., Amaral, A., Baptista, M., Tavares, R., Caballero Campo, P., Caballero Peregrin, P., … & Ramalho-Santos, J. (2011). Not all sperm are equal: functional mitochondria characterize a subpopulation of human sperm with better fertilization potential. PloS one, 6(3), e18112.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, sperma

Peran Mikrobiota Vagina dalam Kesuburan: Harapan Baru dari Probiotik Ligilactobacillus salivarius

April 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Masih banyak wanita yang mengalami kegagalan reproduksi seperti aborsi berulang atau infertilitas tanpa penyebab yang jelas. Meskipun pemeriksaan medis rutin tak jarang menunjukkan hasil “normal”, nyatanya kehamilan tetap sulit dicapai. Salah satu aspek yang kini mulai disorot sebagai penyebab tersembunyi adalah keseimbangan mikrobiota di saluran reproduksi, khususnya di area servikovaginal. Wah kira-kira itu apa ya? yuk bahas lebih lanjut!

Mikrobiota Vagina: Si Penjaga Kesuburan yang Terlupakan

Jadi, mikrobiota di vagina wanita yang sehat itu sebenarnya nggak banyak ragamnya. Justru yang ideal itu kalau didominasi sama bakteri baik bernama Lactobacillus. Jenis-jenisnya seperti L. crispatus, L. gasseri, L. iners, dan L. jensenii—mereka bantu menjaga keseimbangan lingkungan vagina, mencegah bakteri jahat tumbuh, dan menjaga pH tetap ideal untuk kehamilan.

Sebaliknya, kalau jumlah bakteri jadi terlalu beragam (kondisi ini disebut disbiosis), apalagi kalau yang dominan justru bakteri anaerob seperti Gardnerella atau Prevotella, ini bisa bikin masalah. Misalnya: vaginosis bakterial, infeksi di rahim, bahkan sulit hamil. Disbiosis ini biasanya ditandai dengan skor Nugent yang tinggi dan pH vagina yang naik—dua hal yang sering ditemukan pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi.

Artinya, secara nggak langsung, probiotik yang bisa mengembalikan dominasi Lactobacillus ini punya pengaruh besar terhadap kesuburan.

Penemuan Menarik: Probiotik Bisa Bantu Kesuburan?

Sebuah studi di jurnal Nutrients meneliti kondisi servikovaginal (leher rahim dan vagina) pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi, lalu dibandingkan dengan wanita sehat dan subur. Hasilnya cukup jelas—wanita yang mengalami aborsi berulang atau infertilitas ternyata punya pH vagina dan skor Nugent yang lebih tinggi (ini tandanya kondisi mikrobiotanya nggak seimbang). Selain itu, kadar faktor imun penting seperti TGF-β1, TGF-β2, dan VEGF juga lebih rendah. Jumlah Lactobacillus-nya? Jauh lebih sedikit dibandingkan wanita subur.

Studi ini nggak cuma berhenti di situ. Mereka juga mencoba memberikan probiotik Ligilactobacillus salivarius CECT5713 secara oral setiap hari (sekitar 9 log10 CFU/hari) selama maksimal 6 bulan pada wanita yang mengalami kegagalan reproduksi.

Hasilnya cukup menjanjikan, tingkat keberhasilan kehamilan mencapai 56%! Selain itu, terjadi perbaikan besar dalam kondisi mikrobiologi, biokimia, dan imunologinya.

Dari temuan tersebut menunjukkan bagaimana mikrobiota vagina yang sehat yaitu yang kaya akan Lactobacillus memegang peranan penting dalam mendukung kesuburan. Intervensi berbasis probiotik seperti L. salivarius CECT5713 mulai menunjukkan potensi besar untuk membantu wanita dengan kegagalan reproduksi yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Tapi tentu saja ini masih diperlukan  penanganan lebih lanjut lanjut, tapi fakta bahwa pendekatan ini membuka peluang baru dalam dunia reproduksi terutama dalam mengembalikan keseimbangan mikrobiota sebagai kunci untuk harapan kehamilan. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

Fernández, L., Castro, I., Arroyo, R., Alba, C., Beltrán, D., & Rodríguez, J. M. (2021). Application of Ligilactobacillus salivarius CECT5713 to achieve term pregnancies in women with repetitive abortion or infertility of unknown origin by microbiological and immunological modulation of the vaginal ecosystem. Nutrients, 13(1), 162.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, mikrobiota vagina, probiotik

Pahami Tindakan Kistektomi Ovarium dan Dampaknya pada Kesuburan

April 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ovarian cystectomy atau kistektomi ovarium adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat kista ovarium. Tahukah sister dan paksu bahwa kista ovarium sendiri merupakan kantong abnormal di ovarium yang berisi cairan atau nanah. Pada sebagian kasus, kista ini dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. 

Namun, dalam beberapa kondisi, kista ovarium bisa menetap, menimbulkan rasa nyeri, berpotensi menjadi sel kanker, dan jika berukuran cukup besar akan menekan organ lainnya, sehingga dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tindakan kistektomi. Prosedurnya sendiri ada banyak mulai dari laparoskopi, hingga laparotomi. Nah MDG akan membahas salah satu dampak dari prosedur terutama berdampak pada kesuburan jangka panjang. Baca sampai habis yuk!

Dampak Sistektomi Ovarium dengan Prosedur Laparoskopi pada Cadangan Ovarium

Sistektomi laparoskopi adalah prosedur yang dilakukan untuk mengangkat kista ovarium, namun ada dampak yang perlu diperhatikan terhadap cadangan ovarium, yaitu kemampuan ovarium untuk menghasilkan sel telur. Dalam sebuah studi, wanita yang menjalani prosedur ini menunjukkan penurunan kadar hormon antimüllerian (AMH) yang digunakan untuk mengukur cadangan ovarium. 

Penurunan AMH ini lebih signifikan bagi sister yang menjalani kauterisasi lebih banyak selama operasi dan yang memiliki kista dengan ukuran tertentu. Selain itu, perlu di lihat bagaimana lokasi kista karena kista yang ada di satu atau dua ovarium berpengaruh pada penurunan kadar AMH. Hal ini penting untuk diperhatikan karena menurunnya kadar AMH dapat mempengaruhi kesuburan perempuan di masa depan.

Apa Artinya Bagi Kesuburan?

Kista ovarium dan sistektomi dapat mempengaruhi cadangan ovarium dan kemampuan perempuan untuk memiliki anak di masa depan. Meski penurunan lebih signifikan setelah sistektomi, kedua kondisi ini tetap berpengaruh pada kesuburan.

Nah jika begitu, maka kita perlu untuk menjaga kesehatan ovarium dan Kesuburan. Dan bagi perempuan yang mengalami kista ovarium atau sudah menjalani sistektomi, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menjaga kesehatan ovarium dan kesuburan:

  1. Melakukan Pemantauan Rutin, dengan melakukan pemeriksaan berkala oleh dokter untuk memantau kesehatan ovarium, kadar hormon AMH, dan jumlah folikel antral.

  2. Gaya Hidup Sehat, dengan menjaga berat badan yang sehat, makan dengan gizi seimbang, dan rutin berolahraga dapat mendukung kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

  3. Hindari Stres Berlebih, hal seperti stres dapat mempengaruhi keseimbangan hormon, jadi penting untuk mencari cara untuk mengelola stres, seperti meditasi atau kegiatan yang menenangkan.

  4. Edukasi dan Konsultasi, yang tidak kalah penting tentu saja mencari informasi lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kesuburan untuk merencanakan masa depan reproduksi.

Jadi meski ada potensi yang beresiko pada kesuburan dimasa yang akan datang, bagi perempuan yang memiliki kista ovarium besar atau yang sudah menjalani sistektomi dapat mendapatkan perhatian medis lebih untuk menjaga kesehatan ovarium. Pemantauan terhadap kadar hormon dan jumlah folikel sangat penting untuk memastikan dapat merencanakan kehamilan di masa depan dengan lebih baik. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Bareghamyan, H., Chopikyan, A., Petrosyan, M., Shahverdyan, N., & Harutyunyan, A. (2024). Influence of ovarian cysts on ovarian reserve and fertility: A case–control study. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 165(2), 424-430.
  • Mansouri, G., Safinataj, M., Shahesmaeili, A., Allahqoli, L., Salehiniya, H., & Alkatout, I. (2022). Effect of laparoscopic cystectomy on ovarian reserve in patients with ovarian cyst. Frontiers in Endocrinology, 13, 964229.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/macam-macam-pembedahan-kista-ovarium

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: apa itu ovarium, infertilitas, kesuburan, kista, perempuan

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.