• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

wanita

Program Mind‑Body untuk Wanita dengan Infertilitas: Apa Manfaatnya?

October 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas hadir sebagai hal yang makin banyak ditemui. Data menunjukkan 12,1% wanita menikah usia 15–49 tahun mengalami infertilitas. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun, begitu juga dengan biaya pengobatan yang melonjak tajam. Sayangnya, meskipun banyak usaha medis dilakukan, tingkat kelahiran tetap rendah.

Di balik angka‑angka itu, ada sisi lain yang sering terabaikan yaitu beban emosional. Wanita yang menjalani perawatan infertil sering menghadapi depresi, kecemasan, dan stres yang berat. Bahkan, banyak yang menggambarkan pengalaman ini setara dengan kehilangan orang terdekat atau perceraian. Jika perawatan gagal, kondisi psikologis bisa makin memburuk dan bertahan lama. Parahnya lagi, stres berlebihan juga dapat menurunkan peluang hamil setelah terapi. Jadi perlu adanya program untuk mengatasi ini, pahami lebih lanjut yuk!

Apa Itu Program Mind‑Body?

Untuk membantu mengatasi sisi emosional infertilitas, muncul pendekatan non‑medis yang dikenal sebagai mind‑body program. Intinya, program ini berfokus pada hubungan antara pikiran, tubuh, dan perilaku, dengan tujuan menenangkan sistem tubuh lewat teknik relaksasi.

Beberapa contoh yang termasuk dalam program mind‑body adalah:

  • Meditasi
  • Yoga
  • Tai chi atau qigong
  • Hipnosis
  • Biofeedback
  • Teknik pernapasan dan relaksasi
  • Guided imagery (latihan imajinasi terarah)

Semua teknik ini dirancang untuk menciptakan ketenangan, menurunkan stres, dan membantu tubuh bekerja lebih seimbang.

Infertilitas bukan sekadar persoalan medis, tapi juga perjalanan emosional yang berat. Program mind‑body hadir sebagai pendamping bukan pengganti terapi medis, tapi pelengkap yang bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperbesar peluang keberhasilan. Jadi tentu saja program ini bukan menjadi pengganti, tapi pendukung dari medis.

Untuk itu bagi sister maupun paksu juga orang terdekat sedang berjuang dengan infertilitas, jangan hanya fokus pada aspek medis. Menjaga kesehatan mental dan emosional sama pentingnya. Jadi sangat bisa dicoba program mind‑body seperti yoga, meditasi, atau latihan relaksasi. Selain lebih menenangkan, ada kemungkinan program ini juga membantu memperbesar peluang hamil. Dengan usaha yang maksimal diharapkan dapat membantu secara signifikan program hamil yang sister jalani. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ha, J. Y., & Ban, S. H. Effects of mind-body programs on infertile women: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Asian Nurs Res (Korean Soc Nurs Sci). 2021; 15 (2): 77–88.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: mind body, program hamil, wanita

Mindfulness-Based Art Therapy (MBAT) Bisa Bantu Wanita dengan PCOS Lebih Percaya Diri dengan Tubuhnya

October 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, PCOS itu lebih dari sekadar masalah hormon atau kesulitan hamil. Banyak wanita dengan PCOS sering merasa nggak nyaman dengan tubuh sendiri. Bayangin deh: rambut tumbuh di tempat yang nggak diinginkan, berat badan naik padahal udah diet, haid nggak teratur, sampai kista yang bikin perut terasa nggak nyaman. Semua ini bikin kita sering nggak percaya diri, minder sama penampilan, dan kadang gampang stres atau sedih.

MBAT: Terapi yang Menggabungkan Mindfulness dan Seni

Nah, ada cara seru buat bantu body image alias pandangan kita tentang tubuh, namanya Mindfulness-Based Art Therapy (MBAT). MBAT itu gabungan mindfulness—latihan sadar penuh dengan momen sekarang dan seni. Artinya, kita nggak cuma duduk ngobrol atau curhat, tapi juga bisa mengekspresikan perasaan lewat gambar, kolase, atau karya seni lainnya.

Terapi ini nggak cuma bikin kita fokus sama tubuh dan emosi, tapi juga:

  • Membantu kita mengenali dan menerima tubuh apa adanya
  • Menyalurkan perasaan yang kadang susah diungkapkan dengan kata-kata
  • Membuat sesi terapi lebih interaktif dan menyenangkan

Bagaimana MBAT Membantu Wanita dengan PCOS

Sebuah studi melibatkan wanita usia subur dengan PCOS yang mengikuti MBAT delapan kali, dua sesi seminggu selama empat minggu, plus latihan mandiri di rumah. Setiap sesi berlangsung 90–120 menit, dilakukan secara online, dan peserta dibagi ke grup kecil supaya lebih nyaman dan fokus.

Hasilnya? Peserta yang ikut MBAT merasakan perubahan nyata. Mereka merasa lebih puas dengan tubuhnya, terutama bagian-bagian tubuh yang sebelumnya sering bikin minder. Penilaian terhadap penampilan juga meningkat, dan efek positifnya tetap terasa bahkan satu bulan setelah terapi selesai.

Manfaat MBAT yang Bisa Dirasakan Sehari-hari

Dengan MBAT, wanita dengan PCOS bisa:

  • Lebih nyaman dan percaya diri dengan tubuh sendiri
  • Mengurangi rasa cemas, stres, dan pikiran negatif soal tubuh
  • Menikmati kegiatan kreatif yang bikin hati lebih lega

MBAT bukan cuma “terapi tambahan”, tapi bisa jadi cara praktis buat self-care sambil belajar menerima diri sendiri. Bagi sister yang sering merasa nggak nyaman dengan tubuh karena PCOS, MBAT bisa jadi teman yang seru dan menenangkan, sekaligus cara melatih mindfulness yang kreatif. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Bafghi, Z. R., Ahmadi, A., Mirzaee, F., & Ghazanfarpour, M. (2024). The effect of mindfulness-based art therapy (MBAT) on the body image of women with polycystic ovary syndrome (PCOS): a randomized controlled trial. BMC psychiatry, 24(1), 611.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: MBAT, PCOS, terapi, wanita

Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) dan Perannya dalam Kesehatan Reproduksi Wanita

August 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam beberapa dekade terakhir, minat wanita untuk mempelajari cara melacak siklus menstruasi atau siklus reproduksi meningkat pesat. Tidak hanya untuk pemantauan kesehatan, tetapi juga untuk tujuan perencanaan keluarga. Perkembangan teknologi mendukung tren ini: kini tersedia lebih dari 500 aplikasi kesehatan yang berfokus pada pelacakan siklus, jumlahnya meningkat tiga kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.

Dengan bimbingan tenaga terlatih atau melalui program edukasi, wanita dapat belajar mengenali tanda-tanda eksternal yang mencerminkan pola hormonal normal maupun abnormal. Informasi ini bermanfaat baik untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi maupun untuk perencanaan kehamilan.

Dari Natural Family Planning ke FABMs

Secara historis, metode ini dikenal sebagai Natural Family Planning (NFP), yaitu cara menghindari atau merencanakan kehamilan dengan mengamati tanda-tanda alami fase subur dan tidak subur. Kini, istilah Fertility Awareness-Based Methods (FABMs) lebih sering digunakan. Alasannya, FABMs tidak hanya berfungsi untuk perencanaan keluarga, tetapi juga sebagai alat penting untuk evaluasi dan perawatan medis terkait kesehatan reproduksi wanita.

Siklus Menstruasi sebagai Tanda Vital

Siklus menstruasi kini diakui sebagai salah satu tanda vital kesehatan wanita. Sama seperti tekanan darah atau denyut jantung, variasi dalam pola menstruasi bisa menjadi indikator dini adanya masalah kesehatan.

Dengan FABMs, wanita dapat melacak perdarahan menstruasi, perubahan lendir serviks, suhu basal tubuh (basal body temperature/BBT), hingga kadar hormon urin. Catatan harian, baik manual maupun aplikasi digital, menjadi “peta tubuh” yang mencerminkan kondisi reproduksi. Sayangnya, hanya sekitar 4% dokter yang menerima pelatihan formal terkait FABMs, sehingga banyak informasi penting dari catatan siklus yang terlewatkan dalam praktik klinis.

Dasar Fisiologi FABMs

FABMs berangkat dari pemahaman bahwa organ reproduksi wanita menghasilkan tanda-tanda biologis yang dapat diamati. Misalnya:

  • Lendir serviks: berubah sesuai kadar estrogen, dari kental menjadi bening dan licin saat mendekati ovulasi.
  • Hormon luteinizing (LH): lonjakan hormon ini memicu ovulasi.
  • Suhu basal tubuh (BBT): meningkat setelah ovulasi akibat pengaruh progesteron.

Puncak kesuburan biasanya ditandai dengan cairan serviks yang bening, licin, dan elastis. Ovulasi terjadi dalam 2–3 hari setelah tanda ini muncul. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron menurun, endometrium luruh, dan menstruasi dimulai kembali.

Jenis-jenis FABMs

Secara umum, ada enam kategori FABMs yang digunakan untuk mengidentifikasi masa subur, yaitu:

  1. Metode lendir serviks
  2. Metode suhu basal tubuh (BBT)
  3. Metode hormon urin
  4. Metode sympto-thermal (gabungan gejala tubuh + suhu)
  5. Metode sympto-hormonal (gabungan gejala tubuh + hormon urin)
  6. Metode kalender (cycle length-based)

 

FABMs dan Kesehatan Wanita

Fungsi ovulasi dapat bervariasi sepanjang fase kehidupan wanita: menarke, kehamilan, menyusui, hingga menopause. Dengan melacak indikator kesuburan, FABMs membantu mendeteksi gangguan ovulasi yang sering berkaitan dengan masalah hormonal.

Beberapa kondisi yang bisa terdeteksi melalui pola siklus antara lain:

  • Gangguan hipotalamus akibat olahraga berlebihan, pola makan tidak sehat, atau stres.
  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi.
  • Endometriosis, juga mengenai sekitar 10% wanita usia reproduksi dan menjadi penyebab umum subfertilitas.

FABMs bukan sekadar metode untuk merencanakan atau menghindari kehamilan, tetapi juga merupakan alat penting dalam menjaga kesehatan reproduksi wanita. Dengan pemahaman dan pemantauan yang tepat, FABMs dapat membantu deteksi dini gangguan hormonal, mendukung diagnosis, dan menjadi panduan perawatan. Informasi menarik lainnya jangan lupa buat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Duane, M., Stanford, J. B., Porucznik, C. A., & Vigil, P. (2022). Fertility awareness-based methods for women’s health and family planning. Frontiers in Medicine, 9, 858977.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertilitas, infertilitas, menuju dua garis, pejuang dua garis, wanita

Waspada Miom di Usia 30+: Apa Dampaknya pada Kesuburan dan Kehamilan?

July 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi wanita usia 30-an ke atas yang sedang merencanakan kehamilan, penting untuk lebih mengenal kondisi rahim, termasuk kemungkinan adanya miom atau fibroid, yaitu tumor jinak yang tumbuh di otot rahim. Memahami keberadaan dan jenis miom sangat penting karena dapat memengaruhi peluang kehamilan. Pahami lebih lanjut yuk mulai dari jenis hingga penangannya!

Jenis-Jenis Mioma dan Dampaknya pada Kesuburan

Mioma dibedakan berdasarkan lokasinya di rahim, dan masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap kesuburan:

  • Submukosa: Tumbuh ke arah rongga rahim. Jenis ini paling sering mengganggu kesuburan karena dapat menghambat implantasi embrio.

  • Intramural: Berada di tengah dinding rahim. Dampaknya terhadap kesuburan masih menjadi perdebatan, tergantung ukuran dan posisinya.

  • Subserosa: Tumbuh ke arah luar rahim. Umumnya tidak mengganggu program hamil karena tidak memengaruhi rongga rahim secara langsung.

Apakah Semua Mioma Perlu Dioperasi?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fibroid kecil dan tanpa gejala yang tidak mengganggu rongga rahim, seperti intramural atau subserosa, umumnya tidak secara signifikan menurunkan peluang hamil. Artinya, jika kamu memiliki fibroid tipe ini, belum tentu perlu operasi dan masih bisa mencoba program hamil alami.

Sebaliknya, submukosa fibroid terbukti dapat menurunkan peluang kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran. Namun, tindakan medis seperti histeroskopi (pengangkatan fibroid melalui rahim) telah terbukti dapat meningkatkan angka kehamilan pada kasus ini.

Hubungan Usia, Miom, dan Kesuburan

Seiring bertambahnya usia, terutama di atas 30–35 tahun, perubahan hormon estrogen dan penurunan aliran darah rahim dapat memicu pertumbuhan miom dan menurunkan kualitas endometrium

Penelitian di Indonesia juga menemukan bahwa mioma uteri paling banyak terjadi pada wanita usia di atas 30 tahun. Oleh karena itu, program hamil di usia 30+ memang memerlukan perhatian ekstra terhadap kondisi rahim.

Kabar Baik: Mioma Bukan Akhir dari Segalanya

Jika fibroid tidak mengganggu rongga rahim, dokter biasanya hanya akan melakukan observasi sambil membantu mengoptimalkan kesehatan rahim dan hormon. Bila diperlukan, terdapat banyak opsi medis yang aman dan telah terbukti meningkatkan peluang kehamilan, seperti histeroskopi atau tindakan lain yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Tips untuk Sister yang Sedang Promil dan Punya Fibroid

  • Jangan panik! Kenali dulu jenis dan lokasi fibroid.

  • Diskusikan dengan dokter mengenai opsi terbaik, baik observasi maupun tindakan medis.

  • Fokus pada optimasi kesehatan rahim dan hormon.

  • Ikuti edukasi atau webinar untuk menambah wawasan seputar kesehatan rahim dan peluang kehamilan.

Bagaimana sudah lebih paham bukan? yang terpenting disini adalah kalian harus mengetahui keadaan mioma agar dapat segera diketahui bagaimana penanganannya, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  1. Freytag, D., Günther, V., Maass, N., & Alkatout, I. (2021). Uterine fibroids and infertility. Diagnostics, 11(8), 1455.

  2. Bonanni, V., Reschini, M., La Vecchia, I., Castiglioni, M., Muzii, L., Vercellini, P., & Somigliana, E. (2023). The impact of small and asymptomatic intramural and subserosal fibroids on female fertility: a case–control study. Human Reproduction Open, 2023(1), hoac056.

  3. Meilani, N. S., Mansoer, F. A. F., Nur, I. M., Argadireja, D. S., & Widjajanegara, H. (2017). Hubungan usia dan paritas dengan kejadian mioma uteri di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS), Universitas Islam Bandung.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: 30+, infertilitas, kehamilan, miom, wanita

Tebal Endometrium dan Peluang Kehamilan: Seberapa Besar Pengaruhnya?

July 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 Sister dan paksu yang sedang menjalani program hamil baik secara alami maupun berbantuan, jangan sampai terlewat ada faktor paling penting yaitu tentang endometrium atau dinding rahim.

MDG akan membahas salah satunya adalah pada program hamil berbantuan seperti program bayi tabung, baik dengan transfer embrio segar maupun embrio beku (FET), Lapisan dalam rahim ini ternyata punya peran penting dalam menentukan keberhasilan kehamilan hingga kelahiran hidup.

Ketebalan Endometrium dan Peluang Kehamilan

Ketebalan lapisan dalam rahim (endometrium) ternyata punya peran penting dalam keberhasilan program bayi tabung, terutama saat transfer embrio beku (FET). Berdasarkan data dari ribuan siklus FET, peluang kehamilan cenderung lebih tinggi jika ketebalan endometrium melebihi 8 mm. Selain itu, lapisan yang lebih tebal juga bisa mendukung pertumbuhan awal janin yang lebih baik.

Menariknya, efek ketebalan endometrium ini bisa berbeda tergantung pada jenis transfer embrio. Pada transfer embrio segar, angka keberhasilan meningkat hingga ketebalan sekitar 10–12 mm. Sementara itu, pada transfer embrio beku, peluang kehamilan optimal ditemukan saat ketebalan berada di kisaran 7–10 mm.

Namun, satu hal yang konsisten dari berbagai studi: jika endometrium terlalu tipis (kurang dari 6 mm), maka peluang kehamilan dan kelahiran hidup menurun drastis—baik untuk transfer embrio segar maupun beku.

Ketebalan Endometrium Ideal Untuk IVF

Ketebalan Endometrium Ideal untuk Keberhasilan IVF Embrio Segar 10–12 mm Peningkatan angka kehamilan dan kelahiran hidup, Embrio Beku (FET) 7–10 mm Angka kelahiran hidup cenderung stabil setelah 10 mm < 6 mm Tidak ideal Risiko penurunan drastis peluang hamil di kedua jenis siklus

Ketebalan endometrium sebelum transfer embrio adalah indikator penting dalam program bayi tabung. Baik jenis protokol yang digunakan maupun waktu transfer harus disesuaikan dengan kondisi endometrium pasien. Oleh karena itu, sangat penting untuk memantau ketebalan endometrium secara saksama sebelum prosedur dilakukan.

Kenalan Sama Endometrium, si Lapisan Penting di Rahim

Sister, kamu tahu nggak kalau dinding rahim kita tuh punya tiga lapisan? Nah, salah satunya yang paling penting buat program hamil adalah endometrium. Lapisan ini terdiri dari dua bagian, dan dia tuh peka banget sama hormon terutama estrogen.

Menjelang masa subur (ovulasi), hormon estrogen bakal naik, dan bikin endometrium menebal. Kenapa harus tebal? Karena disitulah nanti embrio bakal menempel dan tumbuh. Kalau terlalu tipis, si embrio bisa kesulitan nempel karena lapisannya kurang “subur”.

Endometrium yang tipis bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya hormon estrogen yang rendah, pernah operasi rahim, infeksi, atau efek samping dari alat kontrasepsi. Kalau kamu lagi promil atau khawatir soal ketebalan rahim, ada sebaiknya cek ke dokter kandungan. Biasanya di cek pakai USG transvaginal dan tes hormon biar ketahuan penyebabnya. Dari situ baru deh ditentukan terapinya.

Selain periksa ke dokter, sister juga bisa bantu tubuh lewat pola makan sehat: konsumsi daging merah, minyak zaitun, sayuran hijau tua, dan suplemen seperti zat besi, vitamin E, serta omega-3. Jangan lupa juga untuk aktif bergerak dan olahraga rutin yaa. Semangat selalu untuk kamu yang sedang berjuang, sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
 

Referensi:

  • Mahutte, N., Hartman, M., Meng, L., Lanes, A., Luo, Z. C., & Liu, K. E. (2022). Optimal endometrial thickness in fresh and frozen-thaw in vitro fertilization cycles: an analysis of live birth rates from 96,000 autologous embryo transfers. Fertility and sterility, 117(4), 792-800.
  • Shalom-Paz, E., Atia, N., Atzmon, Y., Hallak, M., & Shrim, A. (2021). The effect of endometrial thickness and pattern on the success of frozen embryo transfer cycles and gestational age accuracy. Gynecological Endocrinology, 37(5), 428-432.
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/makanan-apa-yang-harus-dikonsumsi-untuk-mengatasi-rahim-tipis-

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, menebal, rahim, wanita

Kehamilan di Usia Lanjut: Memahami Risiko dan Pentingnya Dukungan yang Tepat

July 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Belakangan ini, beberapa wanita memutuskan untuk menunda kehamilan hingga usia 30-an, bahkan 40-an. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari fokus pada pendidikan dan karier, perubahan sosial seperti perceraian yang lebih umum, hingga kemajuan dalam pengobatan kesuburan. 

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa usia ibu lanjut (Advanced Maternal Age/AMA), atau pada wanita hamil berusia 35 tahun ke atas dalam konteks kesehatan reproduksi kehamilan di usia ini memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipahami dengan baik. Apa saja tantangannya? pahami lebih lanjut yuk!

Risiko yang Lebih Tinggi dalam Kehamilan di Usia Lanjut

Usia ibu yang lebih tua dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Komplikasi Kehamilan Awal: Seperti kehamilan di luar kandungan (ektopik) dan keguguran.
  2. Masalah Janin: Peningkatan risiko kelainan kromosom pada janin dan cacat bawaan.
  3. Masalah Plasenta: Seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) dan solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya).
  4. Kondisi Medis Selama Kehamilan: Lebih rentan terhadap diabetes gestasional (diabetes saat hamil) dan preeklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil).
  5. Kebutuhan Operasi Caesar: Kemungkinan melahirkan secara operasi caesar lebih tinggi.
  6. Risiko Persalinan Prematur dan Kematian Perinatal: Komplikasi di atas bisa menyebabkan bayi lahir prematur dan meningkatkan risiko kematian bayi.

Selain itu, jika seorang wanita sudah memiliki penyakit kronis, kehamilan dapat menambah risiko dan menuntut pemantauan yang lebih ketat. Lalu adakah dampak lain selain berdampak pada susahnya hamil?

Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Ibu

Kehamilan di usia lanjut memang bukan hal yang mustahil, tapi tetap ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan. Selain tantangan selama kehamilan, ada juga dampak jangka panjang yang bisa memengaruhi kesehatan ibu di kemudian hari.

Secara fisik, perubahan tubuh akibat kehamilan dan meningkatnya risiko komplikasi bisa berdampak seiring bertambahnya usia. Tapi bukan cuma soal fisik, sister karena dampak non-fisik juga perlu jadi perhatian. Misalnya, risiko depresi pasca persalinan cenderung lebih tinggi pada wanita yang hamil di usia lanjut.

Walau begitu, kehamilan di usia lanjut tetap bisa menjadi pilihan yang valid. Yang penting, sister dan paksu perlu mendapat pemahaman yang utuh dari berbagai pihak terutama dari tenaga medis dan support system terdekat.

Beberapa wanita mungkin memilih untuk tetap menjalani kehamilan meski ada risiko, dengan harapan besar dan kepercayaan diri yang kuat. Apalagi dengan adanya pengalaman positif sebelumnya atau bantuan teknologi reproduksi, banyak yang merasa lebih siap dan yakin.

Intinya, dengan edukasi yang cukup dan dukungan holistik, sister yang hamil di usia lanjut tetap bisa mengambil keputusan klinis yang tepat, menjalani kehamilan yang aman, dan menjaga kualitas hidup jangka panjang baik selama masa hamil, maupun ketika menua nanti. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Correa-de-Araujo, R., & Yoon, S. S. (2021). Clinical outcomes in high-risk pregnancies due to advanced maternal age. Journal of women’s health, 30(2), 160-167.
  • Bisri, D. Y., & Bisri, T. (2025). Preeklampsia dan Risiko Penyakit Kardiovaskuler di Masa Depan. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 8(1), 61-68.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22438-advanced-maternal-age

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hami, ibu, kehamilan, perempuan, trend, usia lanjut, wanita

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.