• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for February 2026

Low AMH, Masih Ada Harapan?

February 28, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Mendapatkan hasil pemeriksaan AMH yang rendah sering kali terasa seperti tamparan. Banyak perempuan keluar dari ruang praktik dengan perasaan campur aduk cemas, takut, bahkan merasa waktunya hampir habis. Tidak jarang muncul pikiran, “Berarti saya sulit hamil ya?” Padahal, AMH tidak sesederhana itu.

Apa Sebenarnya Arti AMH?

AMH (Anti-Müllerian Hormone) adalah hormon yang diproduksi oleh folikel kecil di ovarium. Secara sederhana, angka AMH menggambarkan “stok” atau cadangan sel telur yang masih tersisa. Semakin tinggi angkanya, biasanya semakin banyak cadangan telur. Semakin rendah angkanya, berarti cadangan tersebut sudah mulai berkurang.

Namun penting dipahami AMH berbicara tentang jumlah, bukan kualitas. Ia tidak menunjukkan apakah sel telur yang tersisa masih baik atau tidak. Ia juga tidak bisa memastikan apakah ovulasi terjadi dengan optimal setiap bulan.

Kenapa AMH Rendah Terasa Menakutkan?

Karena kita sering mengaitkan “sedikit” dengan “tidak mungkin”.

Padahal, untuk hamil secara alami, tubuh hanya membutuhkan satu sel telur matang yang dilepaskan pada waktu yang tepat dan bertemu dengan sperma yang sehat. Bukan sepuluh. Bukan dua puluh.

Bayangkan seperti ini sister tidak membutuhkan satu keranjang penuh buah untuk membuat satu jus. Anda hanya perlu satu buah yang matang dan bagus. Selama proses ovulasi masih terjadi dan tidak ada gangguan besar lain, peluang kehamilan tetap ada.

Apa Kata Data Ilmiah?

Sebuah analisis besar yang menggabungkan ribuan perempuan yang mencoba hamil secara alami menemukan bahwa kadar AMH ternyata tidak dapat memprediksi dengan baik siapa yang akan hamil dan siapa yang tidak. Baik pada perempuan usia di bawah 35 tahun maupun di atas 35 tahun, hasilnya tetap sama: AMH bukan penentu utama keberhasilan kehamilan alami.

Artinya, perempuan dengan AMH rendah tetap bisa hamil tanpa bantuan teknologi reproduksi. Sebaliknya, perempuan dengan AMH tinggi pun belum tentu mudah hamil jika ada faktor lain yang bermasalah.

Faktor Lain yang Jauh Lebih Berpengaruh, kehamilan adalah proses kompleks. Ia bukan hanya soal ovarium. Banyak komponen harus bekerja selaras, seperti ovulasi yang teratur, kualitas sel telur, kualitas dan jumlah sperma pasangan, saluran tuba yang terbuka, kondisi rahim yang siap menerima embrio dan usia. Dari semua faktor tersebut, usia tetap menjadi penentu paling konsisten terhadap peluang kehamilan alami. Seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur memang cenderung menurun, terlepas dari berapa pun angka AMH.

Lalu, Kapan AMH Itu Penting?

AMH sangat berguna dalam konteks program bayi tabung (IVF). Dokter menggunakan angka ini untuk memperkirakan bagaimana ovarium akan merespons obat stimulasi dan berapa banyak sel telur yang mungkin bisa diambil.

Jadi fungsinya lebih ke arah perencanaan medis, bukan sebagai “vonis kesuburan”.

Masalahnya muncul ketika angka AMH digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai peluang hamil alami. Padahal, ia hanyalah satu potongan kecil dari gambaran besar.

Jadi, Masih Ada Harapan?

Ya, masih. AMH rendah berarti cadangan telur berkurang. AMH rendah tidak sama dengan infertilitas. Selama masih terjadi ovulasi dan tidak ada gangguan besar lainnya, peluang kehamilan tetap ada. Banyak perempuan dengan AMH rendah tetap hamil secara alami kadang lebih cepat dari yang mereka kira. Yang terpenting adalah evaluasi menyeluruh dan pendekatan yang realistis, bukan panik terhadap satu angka.

Jika sister mendapatkan hasil AMH rendah, gunakan itu sebagai informasi untuk perencanaan yang lebih bijak bukan sebagai alasan untuk kehilangan harapan. Tubuh manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar satu hasil pemeriksaan. Dan dalam urusan kehamilan, harapan sering kali tetap ada selama tubuh masih bekerja. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Lin, C., Jing, M., Zhu, W., Tu, X., Chen, Q., Wang, X., … & Zhang, R. (2021). The value of anti-Müllerian hormone in the prediction of spontaneous pregnancy: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Endocrinology, 12, 695157.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: low amh

POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??

February 28, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak pasien dengan Premature Ovarian Insufficiency (POI) bertanya, “Kalau saya tidak ingin donor sel telur, apakah masih ada harapan menggunakan sel telur sendiri?”

POI adalah kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun. Ditandai dengan haid yang jarang atau berhenti, kadar FSH tinggi, dan cadangan ovarium yang sangat rendah. Selain infertilitas, POI juga berdampak pada kesehatan tulang, jantung, dan kondisi psikologis.

Selama ini, terapi lini pertama adalah Hormone Replacement Therapy (HRT). Namun penting dipahami, HRT hanya menggantikan hormon bukan mengembalikan fungsi ovarium atau kesuburan.

Lalu bagaimana dengan pilihan lain?

  1. In Vitro Activation (IVA), Sekitar 75% pasien POI masih memiliki folikel primordial “tertidur” di ovarium. IVA bertujuan membangunkan folikel tersebut agar bisa berkembang menjadi sel telur matang. Prosedurnya melibatkan pengambilan jaringan ovarium, Fragmentasi jaringan untuk mengganggu jalur Hippo, Aktivasi jalur PI3K/Akt dan transplantasi kembali ke tubuh
  2. Terapi Aktivasi Mitokondria, Kualitas sel telur sangat bergantung pada fungsi mitokondria, yaitu “pembangkit energi” sel. Pada POI, sering ditemukan penurunan jumlah mtDNA, peningkatan stres oksidatif dan gangguan produksi energi.
  3. Stem Cell Therapy, Terapi sel punca (stem cell) menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti. Cara kerjanya melalui anti-inflamasi, anti-apoptosis, perbaikan vaskularisasi dan regulasi imun
  4. Platelet-Rich Plasma (PRP), PRP adalah plasma kaya faktor pertumbuhan yang diinjeksi ke ovarium dengan tujuan merangsang aktivitas jaringan.

Terapi-terapi seperti IVA, stem cell, PRP, dan aktivasi mitokondria adalah pendekatan inovatif yang menjanjikan, tetapi masih dalam tahap perkembangan dan penelitian. Artinya, keputusan terapi harus sangat individual dan didiskusikan dengan dokter fertilitas yang berpengalaman.

Jadi Apa yang Perlu Sister dan Paksu Pahami

Dunia fertilitas sedang berkembang cepat. POI bukan lagi kondisi tanpa pilihan.
Namun tidak semua pilihan sudah matang secara klinis.Harapan itu ada.
Tapi harus berbasis ilmu, bukan sekadar tren. Setiap pasien punya kondisi biologis yang berbeda. Dan setiap keputusan harus mempertimbangkan keamanan, peluang keberhasilan, serta kesiapan emosional.

Karena pada akhirnya, program kesuburan bukan hanya tentang teknologi. Tetapi tentang strategi yang paling sesuai untuk tubuh dan kehidupan kalian.

Referensi

    • Huang, Q. Y., Chen, S. R., Chen, J. M., Shi, Q. Y., & Lin, S. (2022). Therapeutic options for premature ovarian insufficiency: an updated review. Reproductive Biology and Endocrinology, 20(1), 28.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, POI, Sel telur

Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS): Terapi Akupuntur Tanpa Jarum untuk Mendukung Program IVF

February 26, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak pasien IVF bertanya, “Selain suntik hormon, apa ada cara lain yang bisa membantu tubuh lebih siap?” Salah satu terapi yang mulai banyak digunakan sebagai pendamping program bayi tabung adalah Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS).

Tapi kira-kira apa Itu TEAS? TEAS adalah terapi stimulasi titik akupuntur menggunakan aliran listrik ringan yang ditempelkan di permukaan kulit. Tidak menggunakan jarum seperti akupuntur tradisional.

Cara kerjanya yaitu, menggunakan alat kecil ditempel di beberapa titik tubuh yang berhubungan dengan organ reproduksi seperti area bawah perut dan pergelangan kaki bagian dalam lalu diberikan stimulasi lembut selama kurang lebih 30 menit. Biasanya dilakukan selama masa stimulasi ovarium dalam program IVF.

Kenapa Terapi Ini Menarik untuk IVF?

Harus sister dan paksu pahami bahwa dalam program bayi tabung, ada dua hal penting sebelum embrio ditransfer Ovarium merespons dengan baik (menghasilkan cukup sel telur) dan lapisan rahim cukup tebal dan siap menerima embrio. Nah fungsi dari TEAS adalah untuk membantu memperbaiki dua hal tersebut.

Penggunaan TEAS berhasil membuat lapisan rahim lebih optimal dan jumlah sel telur yang lebih banyak saat pengambilan (OPU) terutama ketika intensitas stimulasi cukup kuat namun tetap dalam batas aman dan nyaman.

Apakah Bisa Langsung Meningkatkan Angka Kehamilan?

Kehadiran terapi ini membantu memperbaiki “kondisi tubuh” seperti respons ovarium dan kesiapan endometrium. Namun keberhasilan kehamilan tetap dipengaruhi banyak faktor lain, seperti:

  • Kualitas embrio
  • Faktor genetik
  • Kondisi hormonal
  • Usia

Jadi TEAS bukan “jaminan hamil”, melainkan terapi pendamping untuk mengoptimalkan kondisi. Lalu siapa yang kira-kira cocok untuk menerapkan terapi ini? Terapi ini bisa dipertimbangkan pada pasien yang respons ovarium kurang optimal, pernah mendapatkan jumlah sel telur sedikit, memiliki riwayat endometrium tipis dan ingin pendekatan yang lebih holistik dalam program IVF. Tentunya tetap harus dikonsultasikan dengan dokter yang menangani programnya.

Dunia fertilitas sekarang tidak hanya berbicara tentang hormon dan prosedur medis saja. Pendekatan modern mulai menggabungkan terapi medis, pengaturan gaya hidup, dukungan nutrisi dan terapi komplementer seperti TEAS. Karena pada akhirnya, IVF bukan hanya soal laboratorium tetapi juga tentang bagaimana tubuh merespons secara keseluruhan. Dan setiap tubuh punya ceritanya sendiri, jadi dengarkan dan diskusikan dengan ahlinya ya sister dan paksu! jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Zhai, Z. J., Liu, J. E., Lei, L. L., & Wang, S. Y. (2022). Effects of transcutaneous electrical acupoint stimulation on ovarian responses and pregnancy outcomes in patients undergoing IVF-ET: a randomized controlled trial. Chinese journal of integrative medicine, 28(5), 434-439.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: akupuntur, IVF, Jarum

Harapan Baru untuk Cadangan Ovarium Rendah: Mengaktifkan Folikel “Tertidur”

February 25, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Di dalam ovarium perempuan, terdapat ribuan folikel kecil yang menyimpan sel telur. Setiap bulan, sebagian folikel ini tumbuh dan satu di antaranya akan matang untuk dilepaskan saat ovulasi.

Namun pada beberapa kondisi seperti Primary Ovarian Insufficiency (POI)  ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun  jumlah folikel yang aktif sangat sedikit. Selama ini, banyak pasien POI hanya memiliki satu pilihan realistis untuk hamil: menggunakan donor sel telur.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?

Penelitian menemukan bahwa pertumbuhan folikel ternyata diatur oleh jalur sinyal biologis di dalam sel, salah satunya disebut Hippo signaling pathway.

Secara sederhana, jalur Hippo ini berfungsi seperti “rem” yang menjaga agar pertumbuhan jaringan tetap terkendali. Jika jalur ini terlalu aktif, folikel bisa tetap berada dalam kondisi “tidur”.

Di sisi lain, ada jalur lain bernama Akt signaling, yang berperan seperti “tombol gas” untuk merangsang pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Keseimbangan antara “rem” dan “gas” inilah yang menentukan apakah folikel akan tumbuh atau tetap dorman.

Bagaimana Cara Mengaktifkan Folikel yang Tersisa?

Para peneliti mencoba pendekatan yang disebut in vitro activation (IVA).

Langkahnya secara garis besar seperti ini:

  1. Ovarium (atau sebagian jaringan ovarium) diambil melalui prosedur bedah minimal invasif.
  2. Jaringan tersebut dipotong menjadi fragmen kecil proses ini ternyata dapat “mengganggu” jalur Hippo.
  3. Jaringan kemudian diberikan stimulasi obat untuk mengaktifkan jalur Akt.
  4. Setelah itu, jaringan ovarium ditanam kembali ke tubuh pasien (autograft).

Mengapa Ini Penting? Pendekatan ini membuka kemungkinan baru untuk Pasien dengan Primary Ovarian Insufficiency (POI), Wanita dengan cadangan ovarium rendah, Pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi ovarium akibat terapi. Perempuan usia matang dengan respons ovarium yang sangat terbatas

Artinya, pada kondisi tertentu, ovarium yang “terlihat tidak aktif” mungkin masih menyimpan potensi hanya saja perlu pendekatan yang tepat untuk membangunkannya. Tentu saja, terapi ini tidak cocok untuk semua pasien dan masih memerlukan seleksi serta evaluasi ketat. Namun konsep bahwa folikel “tidur” bisa diaktifkan kembali mengubah cara kita memandang infertilitas akibat cadangan ovarium rendah. Dulu, pilihannya hampir selalu donor sel telur. Kini, ada kemungkinan menggunakan sel telur sendiri pada kondisi yang tepat. Ilmu reproduksi terus berkembang. Dan setiap perkembangan baru memberi satu hal yang sangat berarti bagi banyak pasangan harapan. 

Referensi

  • Kawamura, K., Cheng, Y., Suzuki, N., Deguchi, M., Sato, Y., Takae, S., … & Hsueh, A. J. (2013). Hippo signaling disruption and Akt stimulation of ovarian follicles for infertility treatment. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(43), 17474-17479.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: low amh, ovarium

Harapan Hamil Setelah Operasi Intrauterine Adhesions (IUA)

February 25, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Perlengketan di dalam rahim atau intrauterine adhesions (IUA) dapat menjadi salah satu penyebab infertilitas yang sering terlewat. Kondisi ini terjadi ketika dinding rahim saling menempel akibat jaringan parut, biasanya setelah kuretase, infeksi, atau tindakan bedah sebelumnya.

Kabar baiknya, prosedur histeroskopi untuk melepaskan perlengketan dapat membuka kembali peluang kehamilan. Namun, bagaimana hasil reproduksi setelah tindakan ini?

Apa yang sebenarnya terjadi setelah operasi pelepasan perlengketan rahim (adhesi) melalui histeroskopi?

Kabar baiknya, peluang kehamilan setelah tindakan ini cukup menjanjikan. Lebih dari separuh pasien berhasil hamil setelah menjalani prosedur, dan sebagian besar kehamilan terjadi dalam dua tahun pertama pascaoperasi. Artinya, tindakan ini memang memberikan kesempatan nyata bagi pasangan yang sebelumnya mengalami kesulitan karena perlengketan di dalam rahim.

Namun ada satu tanda penting yang sering kali menjadi indikator keberhasilan pemulihan: perubahan pola menstruasi.

Setelah operasi, dokter biasanya memperhatikan apakah haid menjadi lebih teratur atau volumenya membaik. Pasien yang mengalami perbaikan pola menstruasi umumnya memiliki peluang hamil yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami perubahan. Mengapa? Karena haid yang membaik sering mencerminkan bahwa lapisan dalam rahim (endometrium) telah pulih dan lebih siap menerima embrio untuk implantasi.

Meski peluang hamil cukup baik, kehamilan setelah riwayat intrauterine adhesions (IUA) tetap perlu pengawasan lebih ketat. Risiko keguguran bisa lebih tinggi dibandingkan populasi umum, dan ada kemungkinan komplikasi selama kehamilan. Karena itu, kontrol rutin dan pemantauan sejak awal kehamilan sangat dianjurkan agar kondisi ibu dan janin tetap terjaga.

Jadi, apa artinya bagi pasien dengan IUA?

Operasi histeroskopi dapat membuka kembali peluang untuk hamil. Perbaikan pola haid menjadi tanda prognosis yang baik. Kebanyakan kehamilan terjadi dalam dua tahun pertama setelah tindakan. Namun ketika kehamilan sudah tercapai, pemantauan tetap menjadi kunci.

Perlengketan rahim bukanlah akhir dari harapan memiliki anak. Dengan penanganan yang tepat dan evaluasi menyeluruh, kesempatan itu tetap ada. Karena dalam dunia fertilitas, pemulihan bukan hanya soal memperbaiki struktur rahim, tetapi juga memastikan fungsinya kembali optimal siap menyambut kehidupan baru dengan aman dan sehat. Jangan lupa juga untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Weng, X. L., Xie, X., Liu, C. B., & Yi, J. S. (2022). Postoperative reproductive results of infertile patients with intrauterine adhesions: A retrospe

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, IUA, Operasi

Nutrisi & Epigenetik: Kunci Tersembunyi di Balik Infertilitas Pria dan Wanita

February 24, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas dialami sekitar 8–12% pasangan di seluruh dunia. Namun, sering kali fokus hanya tertuju pada hormon atau kualitas sel telur dan sperma. Padahal, ada faktor lain yang bekerja lebih “halus” tetapi sangat menentukan: epigenetik mekanisme yang mengatur bagaimana gen bekerja tanpa mengubah susunan DNA itu sendiri. Pahami lebih dalam yuk sister dan paksu!

Apa Itu Epigenetik dan Mengapa Penting?

Epigenetik adalah sistem “pengatur sakelar” gen. Gen kita mungkin sama, tetapi cara gen tersebut diekspresikan bisa berbeda tergantung usia, lingkungan, stres, dan yang paling penting nutrisi. Perubahan epigenetik bisa diwariskan, tidak mengubah struktur DNA, sangat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup

Pada kasus infertilitas, pola epigenetik pada pria dan wanita sering kali berbeda dibandingkan individu yang subur. Artinya, bukan hanya gen yang berperan, tetapi juga bagaimana gen tersebut “diaktifkan” atau “dimatikan”.

Peran Nutrisi dalam Kesuburan

Tubuh membutuhkan energi dan zat gizi dalam jumlah yang seimbang. Terlalu sedikit atau terlalu banyak asupan bisa berdampak pada kesuburan.

Beberapa nutrisi yang berperan penting dalam regulasi epigenetik dan fertilitas antara lain:

  • Folat & Vitamin B12 → mendukung proses metilasi gen
  • Vitamin B6 & Biotin → membantu metabolisme hormon
  • Vitamin D → berperan dalam fungsi ovarium dan spermatogenesis
  • Zinc & Selenium → penting untuk kualitas sperma
  • Choline → mendukung perkembangan sel
  • CoQ10 → membantu produksi energi sel
  • Resveratrol & Quercetin → senyawa bioaktif dengan efek antioksidan

Selain itu, asupan metionin dan keseimbangan energi juga memengaruhi proses metilasi DNA, salah satu mekanisme epigenetik utama.

Berat Badan, Insulin, dan Kesuburan

Berat badan yang berlebihan atau terlalu rendah dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.Penurunan berat badan sekitar 5–10%, aktivitas fisik moderat, dan pola makan yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin terbukti membantu memperbaiki fungsi reproduksi, terutama pada kondisi seperti PCOS. Tubuh yang metaboliknya stabil menciptakan lingkungan epigenetik yang lebih sehat untuk sel telur dan sperma.

Infertilitas pada Pria: Lebih dari Sekadar Jumlah Sperma

Pada pria, perubahan epigenetik dapat memengaruhi:

  • Rasio histon-protamin pada sperma
  • Regulasi gen yang terlibat dalam perkembangan embrio
  • Kualitas DNA sperma

Stres oksidatif (ROS), defisiensi nutrisi tertentu, dan faktor lingkungan dapat mengubah pola epigenetik sperma dan berdampak pada keberhasilan pembuahan maupun perkembangan embrio.

Infertilitas pada Wanita: Regulasi Gen dan Lingkungan Rahim

Pada wanita, epigenetik berperan dalam fungsi ovarium, kualitas oosit, respons hormon seperti FSH dan AMH dan reseptivitas endometrium. Gangguan regulasi gen dapat memengaruhi kesiapan rahim menerima embrio serta kualitas sel telur itu sendiri.

Kesuburan Adalah Kombinasi Gen, Lingkungan, dan Gaya Hidup

Untuk memahami infertilitas secara menyeluruh, kita perlu melihat gambaran besar:

  • Usia
  • Kondisi kesehatan
  • Pola makan
  • Aktivitas fisik
  • Paparan lingkungan
  • Status metabolik

Semua faktor ini saling berinteraksi dan memengaruhi epigenetik tubuh. Hal tersebut dapat membantu menciptakan kondisi epigenetik yang lebih mendukung kesuburan. Karena pada akhirnya, kesuburan bukan hanya tentang DNA yang kita miliki tetapi tentang bagaimana tubuh kita menggunakannya. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Erdoğan, K., Sanlier, N. T., & Sanlier, N. (2023). Are epigenetic mechanisms and nutrition effective in male and female infertility?. Journal of Nutritional Science, 12, e103.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, nutrisi, Pria, wanita

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Interim pages omitted …
  • Page 5
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • AMH Rendah dan Peluang IVF: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?
  • Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI): Serupa Tapi Tak Sama
  • Low AMH, Masih Ada Harapan?
  • POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??
  • Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS): Terapi Akupuntur Tanpa Jarum untuk Mendukung Program IVF

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.