• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

sperma

Kenali apa itu Asthenozoospermia dan Dampaknya pada Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Asthenozoospermia (AZS) merupakan kondisi medis yang sering menjadi penyebab utama infertilitas pria. Secara umum, AZS didefinisikan sebagai berkurangnya motilitas sperma atau bahkan hilangnya motilitas sperma. Biasanya, sperma yang dapat bergerak maju (motilitas progresif) harus lebih dari 32%. Nah dalam kasus dengan AZS, motilitas sperma jauh di bawah angka tersebut, yang berujung pada kesulitan dalam mencapai sel telur dan menghambat kemungkinan terjadinya pembuahan. Yuk pahami lebih dalam mengenai AZS?

Faktor Penyebab Asthenozoospermia

Kondisi AZS ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu penyebab utama adalah kelainan pada flagel sperma. Flagel sperma adalah struktur berbentuk cambuk yang memungkinkan sperma bergerak. Flagel ini terdiri dari beberapa bagian, termasuk aksonema, yang merupakan bagian inti dari flagel, dan beberapa struktur aksonema seperti selubung mitokondria dan selubung fibrosa. Aksonema flagel sperma memiliki struktur yang mirip dengan silia pada sel lainnya. Oleh karena itu, kelainan pada struktur flagel ini dapat menyebabkan berkurangnya motilitas sperma.

Secara klinis, AZS dibagi menjadi dua bentuk utama:

  1. AZS Terisolasi
    Bentuk ini tidak disertai dengan gejala atau masalah kesehatan lainnya. AZS terisolasi dapat mencakup multiple Anomaly of Sperm Flagella (MMAF), dimana flagela sperma memiliki bentuk yang tidak normal, misalnya, tidak ada flagela, flagela yang pendek, bersudut, atau tidak teratur. Hal ini dianggap sebagai kelainan genetik yang dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik.

  2. AZS Sindromik
    AZS juga dapat berupa sindromik, di mana disfungsi silia berperan. Salah satu contoh penyakit yang terkait adalah diskinesia silia primer (PCD), sebuah gangguan genetik resesif autosomal yang mengganggu motilitas silia. PCD tidak hanya memengaruhi flagela sperma tetapi juga menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis dan rinosinusitis akibat malfungsi silia di saluran pernapasan.

Dampak Asthenozoospermia pada Kesuburan Pria

AZS terisolasi sering kali ditemukan pada pria dengan masalah kesuburan, berkontribusi pada sekitar 80% kasus infertilitas pria. Dalam banyak kasus, pria dengan AZS mengalami penurunan kemampuan untuk membuahi sel telur, meskipun masih memiliki sperma yang terlihat normal di bawah mikroskop. Keberhasilan reproduksi pria dengan AZS bergantung pada kualitas motilitas sperma. Oleh karena itu, memahami penyebab dan mekanisme dibalik AZS sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

Implikasi untuk Pengobatan dan Reproduksi

Meskipun terapi untuk AZS masih terbatas, beberapa penelitian telah menunjukkan potensi pengobatan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti ICSI (Intra-Cytoplasmic Sperm Injection), yang memungkinkan sperma dengan motilitas rendah tetap digunakan untuk pembuahan in-vitro. 

Asthenozoospermia merupakan salah satu penyebab utama infertilitas laki-laki dan tentunya sudah banyak solusi yang ditawarkan seperti IVF dan ICSI, untuk itu bagi kalian yang sedang mengalami kasus ini harus segera membicarakan pada dokter dalam membicarakan langkah apa baiknya yang dapat diputuskan sehingga tidak akan salah langkah. Informasi menarik lainnya bisa langsung cek di Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

Tu, C., Wang, W., Hu, T., Lu, G., Lin, G., & Tan, Y.-Q. (2020). Genetic underpinnings of asthenozoospermia. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 34(6), 101472. https://doi.org/10.1016/j.beem.2020.101472

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: AZS, flagel, laki-laki, sperma

CBAVD & Prosedur PESA dan ICSI: Kenapa Gerak Sperma Penting Banget?

May 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak faktor penyebab infertilitas, terkadang dari faktor perempuan tapi juga bisa jadi dari laki-laki. Salah satu kondisi bawaan yang cukup sering jadi penyebab tapi jarang disadari dia adalah Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens (CBAVD). Ini adalah kondisi bawaan di mana saluran vas deferens sebagai jalur utama keluarnya sperma tidak terbentuk sejak lahir. 

Akibatnya, sperma nggak bisa keluar lewat ejakulasi secara alami. Dalam kasus ini tentu satu-satunya solusi adalah menggunakan prosedur seperti PESA dan ICSI. Nah MDG akan membahas secara spesifik bagaimana dua prosedur ini berperan dalam membantu kondisi CBAVD.

Pahami apa itu PESA dan ICSI

Pada kondisi ini sister dan paksu dapat memanfaatkan teknologi medis yang sudah berkembang pesat. Dalam kasus CBAVD salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk kasus ini adalah kombinasi dua prosedur:

  • PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration), yaitu pengambilan sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum halus dan
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), yaitu penyuntikan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Meski memiliki infertilitas dimana tidak bisanya mengeluarkan sperma secara alami, tapi  yang menarik, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa motilitas sperma alias “gerak lincahnya sperma” ternyata lebih memengaruhi hasil dari program PESA-ICSI ini.

Dalam studi oleh Jixiang yang melibatkan lebih dari seratus pasangan program bayi tabung dengan sperma hasil PESA, pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan seberapa aktif sperma mereka bergerak. Hasilnya cukup jelas, sister. Mereka yang spermanya lebih lincah ternyata menunjukkan hasil yang jauh lebih baik di berbagai tahap penting, mulai dari proses pembuahan, perkembangan embrio, hingga kualitas embrio yang dihasilkan. Nggak cuma itu, peluang kehamilan dan kelahiran bayi sehat juga jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan sperma yang geraknya lambat. Ini jadi bukti kalau motilitas sperma punya peran besar dalam menentukan keberhasilan program bayi tabung, khususnya dengan metode PESA-ICSI.

Jadi, Apa Artinya?

Buat paksu yang sedang berjuang lewat program bayi tabung, terutama dengan kondisi CBAVD, gerak sperma bukan cuma angka tambahan di hasil lab. Motilitas sperma bisa jadi penentu penting keberhasilan pembuahan, perkembangan embrio, hingga kelahiran bayi.

Artinya, saat kamu menjalani prosedur seperti PESA, diskusikan juga soal kualitas sperma terutama motilitasnya dengan doktermu. Ini bisa membantu menentukan strategi terbaik buat kamu dan pasangan.

Ingat, setiap perjalanan menuju kehamilan itu unik. Teknologi bisa bantu banyak, tapi memahami tubuh dan kondisinya adalah langkah awal yang penting. Dan kamu nggak sendiri, sister & paksu. Banyak yang sedang melalui perjuangan yang sama untuk itu saling support itu penting. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jixiang, Z., Lianmei, Z., Yanghua, Z., & Huiying, X. (2022). Relationship of sperm motility with clinical outcome of percutaneous epididymal sperm aspiration–intracytoplasmic sperm injection in infertile males with congenital domestic absence of vas deferens: a retrospective study. Zygote, 30(2), 234-238.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gerak, infertilitas, laki-laki, motilitas, sperma

Kenali Teknik Pengambilan Sperma yang Paling Efektif untuk Azoospermia Obstruktif

May 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Fakta bahwa infertilitas tidak hanya disebabkan oleh perempuan tapi juga laki-laki, salah satunya adalah berhubungan dengan kualitas dan jumlah sperma. Dan kasus ini disebut sebagai azoospermia, MDG alan membahas lebih lanjut  tentang azoospermia obstruktif, karena pada kasus ini sering sekali ditemui. 

Azoospermia ini bisa juga dipahami sebagai pasca-testis, dimana adanya penyumbatan atau hilangnya koneksi di sepanjang saluran reproduksi. Laki-laki tetap memproduksi sperma tetapi sperma tersebut terhalang untuk keluar. Jenis ini juga disebut azoospermia obstruktif. Ini adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi hingga 40% orang dengan azoospermia.

Nah, ada beberapa teknik pengambilan sperma yang biasa digunakan, dan muncul pertanyaan: mana yang paling efektif? salah satunya antara dua teknik yang paling sering digunakan adalah PESA dan MESA. Tapi sebelum itu pahami dulu yuk apa perbedaan dari dua prosedur ini.

Apa Bedanya PESA dan MESA?

PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) adalah prosedur yang relatif simpel. Nggak perlu operasi besar, bisa dilakukan cepat, tanpa rawat inap, dan biayanya pun lebih terjangkau. Banyak sumber menyebut PESA cocok dijadikan pilihan pertama apalagi kalau kondisi pasien memungkinkan.

Tapi ada satu hal penting kalau melihat dari angka-angka keberhasilan dalam mengambil sperma yang benar-benar bisa dipakai, justru MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) yang unggul.

MESA dilakukan dengan bantuan mikroskop bedah, sehingga proses pengambilannya lebih presisi. Hasilnya? Tingkat pengambilan sperma lebih tinggi, dan peluang untuk kriopreservasi (pembekuan sperma untuk nanti) juga lebih besar.

Apa kerugian MESA?

Mikroskop operasi dan keterampilan khusus diperlukan untuk mengidentifikasi saluran yang paling mungkin berisi sperma. Prosedur ini memerlukan anestesi umum atau spinal dan melibatkan sayatan di skrotum untuk mendapatkan akses ke satu atau kedua testis.

PESA merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendapatkan sperma dari epididimis. Namun, MESA merupakan metode yang lebih disukai untuk mendapatkan sperma motil dalam jumlah yang lebih banyak untuk kriopreservasi atau ICSI. Akibatnya, biaya keseluruhan MESA lebih tinggi daripada PESA perkutan.

Teknik ini melibatkan sayatan pada kulit; karena itu, ada risiko kecil terjadinya infeksi luka dan hematoma.

Dalam kasus di mana tidak ada sperma yang ditemukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan ke dalam testis untuk mencari sperma yang layak, suatu prosedur yang disebut TESE atau ekstraksi sperma testis.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau tujuannya benar-benar ingin dapat sperma dengan kualitas terbaik dan peluang simpan jangka panjang, MESA bisa jadi pilihan yang lebih optimal.

Tapi bukan berarti PESA kalah sepenuhnya. Banyak yang tetap memilih PESA karena lebih praktis dan hemat. Bahkan beberapa menyarankan untuk coba PESA dulu, baru lanjut ke MESA kalau ternyata tidak berhasil. Wah bagaimana menarik bukan? jadi sister dan paksu apakah sudah ada bayangan akan pilih prosedur mana? dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu kalian harus benar-benar berkonsultasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Untuk informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Fraietta, R., De Carvalho, R., & Vasconcellos, F. (2022). WHAT IS THE BEST TECHNIQUE TO RECOVER SPERMATOZOA FROM OBSTRUCTIVE AZOOSPERMIC PATIENTS?. Fertility and Sterility, 118(4), e292-e293.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15441-azoospermia?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true
  • https://www.ivftreatmentistanbul.com/pesa-tesa-mesa

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, infertilitas, laki-laki, MESA, PESA, sperma

Prosedur TESA Solusi untuk Masalah Kesuburan Pria, Ini Faktanya!

May 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Buat kamu dan paksu yang sedang berjuang punya buah hati, istilah TESA (Testicular Sperm Aspiration) mungkin belum terlalu familiar. Tapi tenang, kita bahas bareng, yuk!

Berkenalan dengan Prosedur TESA

TESA adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari testis, biasanya dilakukan saat paksu tidak bisa mengeluarkan sperma secara alami atau jumlah sperma sangat sedikit atau permasalahan sperma lainnya. TESA (Testicular Sperm Aspiration) adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari epididimis atau testis yang digunakan pada pria dengan azoospermia, yaitu kondisi di mana tidak ditemukan sperma dalam air mani. 

Azoospermia bisa disebabkan oleh sumbatan (obstruktif) atau gangguan produksi sperma (non-obstruktif). Sperma yang diambil biasanya digunakan untuk program bayi tabung dengan teknik ICSI (injeksi sperma ke dalam sel telur), karena jumlahnya sangat terbatas dan tidak cocok untuk inseminasi biasa.

Siapa Aja yang Bisa Menggunakan Prosedur TESA?

TESA biasanya direkomendasikan buat pria yang punya kondisi tertentu, kayak:

  • Nggak bisa ejakulasi, misalnya karena kondisi medis seperti cedera saraf, atau karena faktor psikologis yang bikin stres berat tiap kali harus “mengeluarkan”.

  • Jumlah dan kualitas sperma yang sangat rendah, padahal secara fisik dan hormon nggak ada keluhan yang berarti.

  • Pernah steril (vasektomi) dan sudah operasi penyambungan, tapi sperma masih sulit ditemukan di air mani

Apakah Prosedur TESA Bisa Berhasil? Berapa Banyak?

Nah, ini yang bikin semangat, sister! sebuah penelitian bahkan menunjukkan ternyata TESA berhasil ambil sperma pada 94% pria yang ikut prosedur ini. Bahkan, di dua kelompok yang nggak bisa ejakulasi dan yang sudah operasi penyambungan angka keberhasilannya 100%! Keren banget, kan?

Dan setelah spermanya diambil lewat TESA, pasangan ini ikut program bayi tabung (ICSI). Hasilnya?  Sekitar 1 dari 3 pasangan berhasil hamil. Angka yang cukup menjanjikan buat yang udah berjuang lama.

Artinya, kalau paksu masih punya sperma walau sangat sedikit atau susah dikeluarkan, TESA bisa jadi salah satu cara untuk bantu wujudkan impian punya anak. Tentu nggak semua pasangan langsung berhasil, tapi prosedur ini kasih peluang tambahan yang patut dicoba.

Dan yang paling penting: kamu nggak sendirian dalam perjuangan ini. Ada banyak pasangan lain yang juga lagi mencari jalan terbaik dan TESA mungkin bisa jadi salah satunya. Jika butuh informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Alrabeeah, K., Yafi, F., Flageole, C., Phillips, S., Wachter, A., Bissonnette, F., … & Zini, A. (2014). Testicular sperm aspiration for nonazoospermic men: sperm retrieval and intracytoplasmic sperm injection outcomes. Urology, 84(6), 1342-1346.
  • https://www.lifefertility.com.au/resources/factsheets/pesa-tesa/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, OAT, sperma, TESA

Pahami Apa Itu Subpopulasi Sperma dan Mengapa Penting untuk Kesuburan

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, banyak yang mengira kalau sperma dalam satu ejakulasi itu seragam semuanya berenang bareng, bentuknya mirip, dan punya tujuan yang sama: membuahi sel telur. Tapi pandangan itu ternyata sudah lama ditinggalkan. Dunia ilmu pengetahuan sekarang tahu, di balik satu tetes cairan ejakulasi, tersembunyi keragaman yang luar biasa. Bukan cuma sekadar ada sperma yang bagus dan sperma yang rusak. Tapi bahkan sperma yang tampaknya “normal” pun ternyata punya keunikan masing-masing. Hal tersebut disebut sebagai subpopulasi sperma mulai dikenal.

Keragaman Sperma dalam Ejakulasi

Para peneliti sejak akhir tahun 1970-an mulai menyadari bahwa sperma tidak bisa dianggap sebagai kelompok yang homogen. Bahkan dalam satu sampel yang tampak sehat, ada perbedaan yang signifikan antar sperma mulai dari cara mereka bergerak, cara mereka menggunakan energi, hingga kandungan molekul di dalamnya. Misalnya, ada sperma yang lebih aktif karena mitokondrianya bekerja lebih efisien, sementara yang lain punya cadangan energi berbeda. 

Ada juga sperma yang sudah mengalami perubahan fisiologis yang membuatnya siap membuahi sel telur (disebut sudah mengalami kapasitasi), sementara yang lain belum siap. Bahkan komposisi membran luar sperma, saluran ion, dan protein yang menempel pun bisa berbeda-beda. Ini artinya, dua sperma yang tampak sama di mikroskop, belum tentu punya potensi yang sama secara fungsional. Wah bisa begitu ya? menarik ngga si paksu?

Pentingnya Memahami Subpopulasi Sperma

Mengapa penting untuk memahami adanya subpopulasi ini? jadi ternyata dalam konteks fertilitas, terutama dalam program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu lainnya, kita tidak cukup hanya menilai sperma dari jumlah, bentuk, atau geraknya saja. Bisa jadi, jumlahnya banyak dan bentuknya normal, tapi sebagian besar berasal dari subpopulasi yang kurang efisien dalam membuahi sel telur. 

Di sisi lain, ada kelompok kecil sperma yang punya kualitas molekuler tinggi dan peluang lebih besar untuk berhasil. Maka, dengan mengenali karakter tiap subpopulasi, kita bisa lebih cermat memilih sperma terbaik untuk proses pembuahan. Lalu dengan apa ini dapat dideteksi?

Teknologi untuk Mengidentifikasi Subpopulasi Sperma

Untuk mengidentifikasi subpopulasi ini, para ilmuwan kini menggunakan teknologi canggih. Salah satunya adalah analisis berbasis komputer yang bisa membaca pola gerak dan bentuk sperma secara otomatis dari ratusan hingga ribuan sel sekaligus. Selain itu, ada juga analisis molekuler dan sitometri alir yang memungkinkan kita melihat kandungan protein, RNA, atau bahkan tingkat fragmentasi DNA di dalam sperma satu per satu. Semakin berkembang teknologinya, semakin detail kita bisa memetakan “karakter” setiap sperma.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausa yang menemukan subpopulasi sperma dengan mitokondria aktif misalnya memiliki kualitas lebih baik dan banyak yang utuh, lebih sedikit kerusakan kromatin, dan lebih mampu berpartisipasi dalam perkembangan awal. Metode penyortiran berdasarkan aktivitas mitokondria terbukti lebih efektif dibandingkan metode klasik. Aktivitas mitokondria dapat dijadikan indikator yang kuat untuk menilai fungsionalitas sperma manusia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sperma ada kompetisi, keragaman, dan bahkan kerja sama antar subpopulasi yang membuat proses pembuahan menjadi kompleks. Dan dengan mengenal subpopulasi sperma ini lebih jauh, sister dan paksu sedang membuka pintu baru dalam pemahaman tentang kesuburan terutama pada paksu. 

Referensi

  • Martínez-Pastor, F. (2022). What is the importance of sperm subpopulations?. Animal Reproduction Science, 246, 106844.
  • Sousa, A. P., Amaral, A., Baptista, M., Tavares, R., Caballero Campo, P., Caballero Peregrin, P., … & Ramalho-Santos, J. (2011). Not all sperm are equal: functional mitochondria characterize a subpopulation of human sperm with better fertilization potential. PloS one, 6(3), e18112.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, sperma

Ketahui Pentingnya Mengecek Seberapa Ideal Berat Badan yang Berpengaruh ke Kesuburan Laki-laki

April 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita sering dengar kalau kelebihan berat badan bisa ganggu kesehatan. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, kalau lemak di perut juga bisa ngaruh ke kualitas sperma? meski banyak pengaruh yang lain, MDG pada kesempatan kali ini ingin membahas dari sisi obesitas atau kelebihan lemak terutama jika ini terjadi pada paksu. 

Kelebihan Berat Badan & Sperma: Apa Hubungannya?

Seseorang dengan kelebihan berat badan dapat mengurangi kualitas dan kesuburan sperma. Kenapa bisa terjadi? nah hal ini berkesinambungan dengan ketidakseimbangan hormonal. Pada laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas, menurut penelitian, sperma yang dihasilkan biasanya memiliki kualitas yang buruk. 

Hal itu terjadi karena adanya perubahan hormon yang menjadi tidak seimbang. Laki-laki dengan berat badan berlebih biasanya  juga jadi lebih sulit untuk mengalami ereksi. Banyak cara mengetahui ukuran tubuh agar dapat diketahui apakah sudah ideal atau belum.

Cara Mengetahui Atau mengukur Lemah pada Tubuh

Beberapa penelitian udah nunjukin bahwa laki-laki yang kelebihan berat badan lebih rentan punya masalah sperma, entah itu dari segi jumlah, pergerakan, atau bentuknya. Nah, biasanya untuk mengukur berat badan, dipakai yang namanya BMI (Body Mass Index). Tapi, BMI ini cuma ngitung berat dan tinggi badan, tanpa tahu lemaknya ngumpul di mana.

Lalu bagaimana dengan lemak yang ada di bagian tertentu seperti pada perut, fakta bahwa lemak di perut (obesitas sentral) justru bisa lebih bahaya dan lebih akurat menunjukkan risiko kesehatan. Nah untuk itu muncul pengukuran lain: WHR (Waist-to-Hip Ratio) atau rasio lingkar pinggang ke pinggul. WHR ini bisa ngasih gambaran apakah lemak tubuh terkonsentrasi di bagian perut atau nggak.

Nah bagi sister dan paksu yang baru familiar sama cara pengukuran berat badan di BMI, sebaiknya mempertimbangkan juga pengecekan lain seperti WHR. Oh ya penyebab dari obesitas di perut juga beragam ya. Tapi secara umum memang sama-sama kelebihan berat badan. 

Cara Mengatasi Perut Buncit

Pada penyebab perut buncit oleh penumpukan lemak berlebih atau obesitas bisa paksu atasi dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti diet atau mengatur pola makan, mengonsumsi makanan sehat serta memiliki gizi seimbang, mencukupi waktu tidur minimal 7-9 jam per hari, berolahraga secara rutin, berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.

Karena paksu harus ketahui bahwasanya penelitian yang dilakukan oleh Keszthelyi et.al (2020)  ini kasih sinyal kuat kalau obesitas di area perut bisa berdampak ke kesuburan laki-laki. Nggak cuma jumlah sperma yang turun, tapi juga kemampuan mereka buat “berenang” menuju sel telur. Jadi baiknya untuk paksu harus  mulai jaga pola makan dan olahraga teratur. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Keszthelyi, M., Gyarmathy, V. A., Kaposi, A., & Kopa, Z. (2020). The potential role of central obesity in male infertility: body mass index versus waist to hip ratio as they relate to selected semen parameters. BMC Public Health, 20, 1-10.
  • https://www.halodoc.com/artikel/cek-hubungan-berat-badan-vs-kesuburan-pria
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/penyebab-perut-buncit

 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, obesitas, perut buncit, sperma

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Page 10
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.