• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

sperma

Jangan Anggap Remeh, Suhu Panas Bisa Rusak Kualitas Sperma!

May 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Suhu panas bukan cuma bikin tubuh gerah, tapi ternyata juga bisa berdampak serius pada kesuburan pria. Lebih spesifik bahwasanya paparan suhu tinggi baik dari cuaca ekstrem, gaya hidup, maupun lingkungan kerja ternyata berpotensi menurunkan kualitas sperma secara signifikan. Wah kenapa bisa begitu? yuk pahami lebih lanjut!

Kenapa Suhu Penting untuk Produksi Sperma?

Fakta yang harus kalian ketahui bahwa Testis bekerja optimal pada suhu yang lebih rendah dibanding suhu tubuh, sekitar 2 hingga 4 derajat Celcius lebih dingin. Saat suhu meningkat, fungsi spermatogenesis (proses pembentukan sperma) bisa terganggu. Bahkan, setiap kenaikan 1 derajat Celcius pada suhu testis dapat menyebabkan penurunan produksi sperma hingga 14 persen.

Apa Kata Bukti Ilmiah? Sebuah meta-analisis yang mengumpulkan data dari 9 studi internasional (melibatkan 336 pria dari Iran, Italia, Thailand, China, dan Mesir) menemukan bahwa paparan suhu tinggi berdampak negatif pada berbagai parameter sperma, yaitu penurunan volume sperma per ejakulasi, penurunan konsentrasi sperma, jumlah total sperma yang lebih sedikit, motilitas (kemampuan bergerak) yang menurun, penurunan motilitas progresif (kemampuan berenang ke arah yang benar), dan juga bentuk sperma normal yang berkurang.

Paparan suhu tinggi juga dikaitkan dengan penurunan aktivitas mitokondria dan adenosin trifosfat (ATP), yang krusial bagi gerakan sperma.

Ketahui apa saja Sumber Panas yang Berdampak pada Kualitas Sperma 

Jadi bukan berarti panas itu karena cuaca ya! karena selain perubahan iklim, peningkatan suhu testis juga bisa dipicu oleh duduk terlalu lama, penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat, sauna atau mandi air panas secara rutin, menaruh laptop di pangkuan dalam waktu lama, dan juga bekerja di lingkungan bersuhu tinggi seperti pabrik atau dapur. Bahkan pemanasan lokal sederhana seperti penggunaan sabuk pemanas bisa memengaruhi morfologi dan DNA sperma.

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Bagi sister dan paksu yang sedang dalam program kehamilan, menjaga suhu testis tetap optimal bisa dilakukan dengan, Menghindari paparan panas berlebih, Menggunakan pakaian dalam yang longgar dan sejuk, Mengurangi aktivitas seperti sauna, mandi air panas, atau memangku laptop, Konsultasi dengan dokter jika lingkungan kerja terpapar suhu tinggi secara rutin. Karena mungkin paksu membutuhkan suplemen.

Pada akhirnya semua masalah masih harus diperiksa lebih lanjut karena hasil yang bervariasi ini biasanya dipengaruhi oleh perbedaan durasi paparan, suhu yang digunakan, dan kondisi tubuh masing-masing partisipan. Meski begitu, bukti yang MDG jabarkan diatas menunjukkan bahwa suhu tinggi tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Sehingga mengenali faktor-faktor yang memengaruhi kesuburan paksu menjadi langkah awal yang penting. Karena perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memberi dampak besar terhadap kualitas sperma dan peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Hoang-Thi, A. P., Dang-Thi, A. T., Phan-Van, S., Nguyen-Ba, T., Truong-Thi, P. L., Le-Minh, T., … & Nguyen-Thanh, T. (2022). The impact of high ambient temperature on human sperm parameters: a meta-analysis. Iranian Journal of Public Health, 51(4), 710.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: #sperma #tukang, laki-laki, sperma, suhu matahari

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

Kenali apa itu Asthenozoospermia dan Dampaknya pada Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Asthenozoospermia (AZS) merupakan kondisi medis yang sering menjadi penyebab utama infertilitas pria. Secara umum, AZS didefinisikan sebagai berkurangnya motilitas sperma atau bahkan hilangnya motilitas sperma. Biasanya, sperma yang dapat bergerak maju (motilitas progresif) harus lebih dari 32%. Nah dalam kasus dengan AZS, motilitas sperma jauh di bawah angka tersebut, yang berujung pada kesulitan dalam mencapai sel telur dan menghambat kemungkinan terjadinya pembuahan. Yuk pahami lebih dalam mengenai AZS?

Faktor Penyebab Asthenozoospermia

Kondisi AZS ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu penyebab utama adalah kelainan pada flagel sperma. Flagel sperma adalah struktur berbentuk cambuk yang memungkinkan sperma bergerak. Flagel ini terdiri dari beberapa bagian, termasuk aksonema, yang merupakan bagian inti dari flagel, dan beberapa struktur aksonema seperti selubung mitokondria dan selubung fibrosa. Aksonema flagel sperma memiliki struktur yang mirip dengan silia pada sel lainnya. Oleh karena itu, kelainan pada struktur flagel ini dapat menyebabkan berkurangnya motilitas sperma.

Secara klinis, AZS dibagi menjadi dua bentuk utama:

  1. AZS Terisolasi
    Bentuk ini tidak disertai dengan gejala atau masalah kesehatan lainnya. AZS terisolasi dapat mencakup multiple Anomaly of Sperm Flagella (MMAF), dimana flagela sperma memiliki bentuk yang tidak normal, misalnya, tidak ada flagela, flagela yang pendek, bersudut, atau tidak teratur. Hal ini dianggap sebagai kelainan genetik yang dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik.

  2. AZS Sindromik
    AZS juga dapat berupa sindromik, di mana disfungsi silia berperan. Salah satu contoh penyakit yang terkait adalah diskinesia silia primer (PCD), sebuah gangguan genetik resesif autosomal yang mengganggu motilitas silia. PCD tidak hanya memengaruhi flagela sperma tetapi juga menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis dan rinosinusitis akibat malfungsi silia di saluran pernapasan.

Dampak Asthenozoospermia pada Kesuburan Pria

AZS terisolasi sering kali ditemukan pada pria dengan masalah kesuburan, berkontribusi pada sekitar 80% kasus infertilitas pria. Dalam banyak kasus, pria dengan AZS mengalami penurunan kemampuan untuk membuahi sel telur, meskipun masih memiliki sperma yang terlihat normal di bawah mikroskop. Keberhasilan reproduksi pria dengan AZS bergantung pada kualitas motilitas sperma. Oleh karena itu, memahami penyebab dan mekanisme dibalik AZS sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

Implikasi untuk Pengobatan dan Reproduksi

Meskipun terapi untuk AZS masih terbatas, beberapa penelitian telah menunjukkan potensi pengobatan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti ICSI (Intra-Cytoplasmic Sperm Injection), yang memungkinkan sperma dengan motilitas rendah tetap digunakan untuk pembuahan in-vitro. 

Asthenozoospermia merupakan salah satu penyebab utama infertilitas laki-laki dan tentunya sudah banyak solusi yang ditawarkan seperti IVF dan ICSI, untuk itu bagi kalian yang sedang mengalami kasus ini harus segera membicarakan pada dokter dalam membicarakan langkah apa baiknya yang dapat diputuskan sehingga tidak akan salah langkah. Informasi menarik lainnya bisa langsung cek di Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

Tu, C., Wang, W., Hu, T., Lu, G., Lin, G., & Tan, Y.-Q. (2020). Genetic underpinnings of asthenozoospermia. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 34(6), 101472. https://doi.org/10.1016/j.beem.2020.101472

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: AZS, flagel, laki-laki, sperma

CBAVD & Prosedur PESA dan ICSI: Kenapa Gerak Sperma Penting Banget?

May 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak faktor penyebab infertilitas, terkadang dari faktor perempuan tapi juga bisa jadi dari laki-laki. Salah satu kondisi bawaan yang cukup sering jadi penyebab tapi jarang disadari dia adalah Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens (CBAVD). Ini adalah kondisi bawaan di mana saluran vas deferens sebagai jalur utama keluarnya sperma tidak terbentuk sejak lahir. 

Akibatnya, sperma nggak bisa keluar lewat ejakulasi secara alami. Dalam kasus ini tentu satu-satunya solusi adalah menggunakan prosedur seperti PESA dan ICSI. Nah MDG akan membahas secara spesifik bagaimana dua prosedur ini berperan dalam membantu kondisi CBAVD.

Pahami apa itu PESA dan ICSI

Pada kondisi ini sister dan paksu dapat memanfaatkan teknologi medis yang sudah berkembang pesat. Dalam kasus CBAVD salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk kasus ini adalah kombinasi dua prosedur:

  • PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration), yaitu pengambilan sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum halus dan
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), yaitu penyuntikan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Meski memiliki infertilitas dimana tidak bisanya mengeluarkan sperma secara alami, tapi  yang menarik, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa motilitas sperma alias “gerak lincahnya sperma” ternyata lebih memengaruhi hasil dari program PESA-ICSI ini.

Dalam studi oleh Jixiang yang melibatkan lebih dari seratus pasangan program bayi tabung dengan sperma hasil PESA, pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan seberapa aktif sperma mereka bergerak. Hasilnya cukup jelas, sister. Mereka yang spermanya lebih lincah ternyata menunjukkan hasil yang jauh lebih baik di berbagai tahap penting, mulai dari proses pembuahan, perkembangan embrio, hingga kualitas embrio yang dihasilkan. Nggak cuma itu, peluang kehamilan dan kelahiran bayi sehat juga jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan sperma yang geraknya lambat. Ini jadi bukti kalau motilitas sperma punya peran besar dalam menentukan keberhasilan program bayi tabung, khususnya dengan metode PESA-ICSI.

Jadi, Apa Artinya?

Buat paksu yang sedang berjuang lewat program bayi tabung, terutama dengan kondisi CBAVD, gerak sperma bukan cuma angka tambahan di hasil lab. Motilitas sperma bisa jadi penentu penting keberhasilan pembuahan, perkembangan embrio, hingga kelahiran bayi.

Artinya, saat kamu menjalani prosedur seperti PESA, diskusikan juga soal kualitas sperma terutama motilitasnya dengan doktermu. Ini bisa membantu menentukan strategi terbaik buat kamu dan pasangan.

Ingat, setiap perjalanan menuju kehamilan itu unik. Teknologi bisa bantu banyak, tapi memahami tubuh dan kondisinya adalah langkah awal yang penting. Dan kamu nggak sendiri, sister & paksu. Banyak yang sedang melalui perjuangan yang sama untuk itu saling support itu penting. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jixiang, Z., Lianmei, Z., Yanghua, Z., & Huiying, X. (2022). Relationship of sperm motility with clinical outcome of percutaneous epididymal sperm aspiration–intracytoplasmic sperm injection in infertile males with congenital domestic absence of vas deferens: a retrospective study. Zygote, 30(2), 234-238.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gerak, infertilitas, laki-laki, motilitas, sperma

Kenali Teknik Pengambilan Sperma yang Paling Efektif untuk Azoospermia Obstruktif

May 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Fakta bahwa infertilitas tidak hanya disebabkan oleh perempuan tapi juga laki-laki, salah satunya adalah berhubungan dengan kualitas dan jumlah sperma. Dan kasus ini disebut sebagai azoospermia, MDG alan membahas lebih lanjut  tentang azoospermia obstruktif, karena pada kasus ini sering sekali ditemui. 

Azoospermia ini bisa juga dipahami sebagai pasca-testis, dimana adanya penyumbatan atau hilangnya koneksi di sepanjang saluran reproduksi. Laki-laki tetap memproduksi sperma tetapi sperma tersebut terhalang untuk keluar. Jenis ini juga disebut azoospermia obstruktif. Ini adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi hingga 40% orang dengan azoospermia.

Nah, ada beberapa teknik pengambilan sperma yang biasa digunakan, dan muncul pertanyaan: mana yang paling efektif? salah satunya antara dua teknik yang paling sering digunakan adalah PESA dan MESA. Tapi sebelum itu pahami dulu yuk apa perbedaan dari dua prosedur ini.

Apa Bedanya PESA dan MESA?

PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) adalah prosedur yang relatif simpel. Nggak perlu operasi besar, bisa dilakukan cepat, tanpa rawat inap, dan biayanya pun lebih terjangkau. Banyak sumber menyebut PESA cocok dijadikan pilihan pertama apalagi kalau kondisi pasien memungkinkan.

Tapi ada satu hal penting kalau melihat dari angka-angka keberhasilan dalam mengambil sperma yang benar-benar bisa dipakai, justru MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) yang unggul.

MESA dilakukan dengan bantuan mikroskop bedah, sehingga proses pengambilannya lebih presisi. Hasilnya? Tingkat pengambilan sperma lebih tinggi, dan peluang untuk kriopreservasi (pembekuan sperma untuk nanti) juga lebih besar.

Apa kerugian MESA?

Mikroskop operasi dan keterampilan khusus diperlukan untuk mengidentifikasi saluran yang paling mungkin berisi sperma. Prosedur ini memerlukan anestesi umum atau spinal dan melibatkan sayatan di skrotum untuk mendapatkan akses ke satu atau kedua testis.

PESA merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendapatkan sperma dari epididimis. Namun, MESA merupakan metode yang lebih disukai untuk mendapatkan sperma motil dalam jumlah yang lebih banyak untuk kriopreservasi atau ICSI. Akibatnya, biaya keseluruhan MESA lebih tinggi daripada PESA perkutan.

Teknik ini melibatkan sayatan pada kulit; karena itu, ada risiko kecil terjadinya infeksi luka dan hematoma.

Dalam kasus di mana tidak ada sperma yang ditemukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan ke dalam testis untuk mencari sperma yang layak, suatu prosedur yang disebut TESE atau ekstraksi sperma testis.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau tujuannya benar-benar ingin dapat sperma dengan kualitas terbaik dan peluang simpan jangka panjang, MESA bisa jadi pilihan yang lebih optimal.

Tapi bukan berarti PESA kalah sepenuhnya. Banyak yang tetap memilih PESA karena lebih praktis dan hemat. Bahkan beberapa menyarankan untuk coba PESA dulu, baru lanjut ke MESA kalau ternyata tidak berhasil. Wah bagaimana menarik bukan? jadi sister dan paksu apakah sudah ada bayangan akan pilih prosedur mana? dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu kalian harus benar-benar berkonsultasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Untuk informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Fraietta, R., De Carvalho, R., & Vasconcellos, F. (2022). WHAT IS THE BEST TECHNIQUE TO RECOVER SPERMATOZOA FROM OBSTRUCTIVE AZOOSPERMIC PATIENTS?. Fertility and Sterility, 118(4), e292-e293.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15441-azoospermia?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true
  • https://www.ivftreatmentistanbul.com/pesa-tesa-mesa

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, infertilitas, laki-laki, MESA, PESA, sperma

Prosedur TESA Solusi untuk Masalah Kesuburan Pria, Ini Faktanya!

May 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Buat kamu dan paksu yang sedang berjuang punya buah hati, istilah TESA (Testicular Sperm Aspiration) mungkin belum terlalu familiar. Tapi tenang, kita bahas bareng, yuk!

Berkenalan dengan Prosedur TESA

TESA adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari testis, biasanya dilakukan saat paksu tidak bisa mengeluarkan sperma secara alami atau jumlah sperma sangat sedikit atau permasalahan sperma lainnya. TESA (Testicular Sperm Aspiration) adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari epididimis atau testis yang digunakan pada pria dengan azoospermia, yaitu kondisi di mana tidak ditemukan sperma dalam air mani. 

Azoospermia bisa disebabkan oleh sumbatan (obstruktif) atau gangguan produksi sperma (non-obstruktif). Sperma yang diambil biasanya digunakan untuk program bayi tabung dengan teknik ICSI (injeksi sperma ke dalam sel telur), karena jumlahnya sangat terbatas dan tidak cocok untuk inseminasi biasa.

Siapa Aja yang Bisa Menggunakan Prosedur TESA?

TESA biasanya direkomendasikan buat pria yang punya kondisi tertentu, kayak:

  • Nggak bisa ejakulasi, misalnya karena kondisi medis seperti cedera saraf, atau karena faktor psikologis yang bikin stres berat tiap kali harus “mengeluarkan”.

  • Jumlah dan kualitas sperma yang sangat rendah, padahal secara fisik dan hormon nggak ada keluhan yang berarti.

  • Pernah steril (vasektomi) dan sudah operasi penyambungan, tapi sperma masih sulit ditemukan di air mani

Apakah Prosedur TESA Bisa Berhasil? Berapa Banyak?

Nah, ini yang bikin semangat, sister! sebuah penelitian bahkan menunjukkan ternyata TESA berhasil ambil sperma pada 94% pria yang ikut prosedur ini. Bahkan, di dua kelompok yang nggak bisa ejakulasi dan yang sudah operasi penyambungan angka keberhasilannya 100%! Keren banget, kan?

Dan setelah spermanya diambil lewat TESA, pasangan ini ikut program bayi tabung (ICSI). Hasilnya?  Sekitar 1 dari 3 pasangan berhasil hamil. Angka yang cukup menjanjikan buat yang udah berjuang lama.

Artinya, kalau paksu masih punya sperma walau sangat sedikit atau susah dikeluarkan, TESA bisa jadi salah satu cara untuk bantu wujudkan impian punya anak. Tentu nggak semua pasangan langsung berhasil, tapi prosedur ini kasih peluang tambahan yang patut dicoba.

Dan yang paling penting: kamu nggak sendirian dalam perjuangan ini. Ada banyak pasangan lain yang juga lagi mencari jalan terbaik dan TESA mungkin bisa jadi salah satunya. Jika butuh informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Alrabeeah, K., Yafi, F., Flageole, C., Phillips, S., Wachter, A., Bissonnette, F., … & Zini, A. (2014). Testicular sperm aspiration for nonazoospermic men: sperm retrieval and intracytoplasmic sperm injection outcomes. Urology, 84(6), 1342-1346.
  • https://www.lifefertility.com.au/resources/factsheets/pesa-tesa/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, OAT, sperma, TESA

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Page 10
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.