• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

sperma

Infertilitas Pria: Mengupas Dampak Fragmentasi DNA Sperma pada Keberhasilan Program Bayi Tabung

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.

Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?

DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.

DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)

Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:

  1. Peluang Melahirkan Anak
    Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup.

  2. Risiko Keguguran
    Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah.

  3. Kualitas Embrio
    Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan.

  4. Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
    Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.

Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.

Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DFI, DNA, infertilitas, kesuburan, laki-laki, Pria, sperma

Gerak Sperma Dipetakan AI: t-SNE Tunjukkan Potensi Diagnosis Kesuburan

May 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernah nggak sih, sister, kepikiran bahwa cara sperma bergerak bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui peluang kehamilan?

Nah, sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang modern banget yaitu dengan menggunakan kecerdasan buatan dan statistik canggih untuk memahami pergerakan sperma dan ternyata hasilnya cukup menjanjikan.

Pahami Hubungan antara Motilitas Sperma dan Kesuburan

Jadi yang perlu sister dan paksu ketahui bahwa sperma yang sehat dapat bergerak maju dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Sedangkan, sperma lambat didiagnosis ketika sperma yang bergerak efisien berjumlah kurang dari 32 persen. Sehingga tidak heran jika motilitas atau pergerakan sperma ini sangat berpengaruh pada keberhasilan program hamil kalian.

 Pada kasus motilitas ini masuk pada Asthenozoospermia yang merupakan kondisi ketika sebagian besar sel sperma memiliki gerakan yang tidak normal. Meski bisa menyebabkan kemandulan, kondisi ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Nah peneliti sudah banyak melakukan percobaan salah satunya pada hewan dalam melihat pergerakan sperma.

Machine Learning untuk Deteksi Sperma 

Penggunaan sampling sperma babi (yes, babi sering dipakai dalam penelitian karena sistem reproduksinya mirip manusia). Mereka ingin tahu apakah cara sperma bergerak bisa dipetakan untuk memprediksi apakah seekor pejantan punya tingkat kesuburan tinggi atau tidak.

Hal ini yang digunakan adalah t-SNE, salah satu teknik machine learning yang bisa “memetakan” pola atau perilaku kompleks, termasuk dalam hal ini: variasi gerak sperma. Gerakannya nggak hanya dilihat cepat atau lambat, tapi juga apakah lurus, berputar, atau acak.

Setelah semua data diolah, para peneliti pakai metode statistik canggih bernama Bayesian logistic regression untuk memprediksi kemungkinan seekor pejantan subur atau tidak, berdasarkan pola gerak spermanya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa:

  • Sperma yang bergerak cepat dan lurus ternyata lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan yang tinggi.

  • Variasi dalam gerakan sperma memang ada, tapi bukan semuanya penting. Yang paling relevan adalah pola gerak efisien dan terarah.

Walaupun ini masih studi pada hewan, tapi pendekatan ini bisa banget diterapkan untuk penelitian kesuburan manusia juga, lho! Dengan teknologi ini, dokter bisa lebih akurat menilai kualitas sperma secara otomatis, bukan hanya dilihat manual di bawah mikroskop.

Dan tentunya, ini membuka peluang baru untuk diagnosis dan penanganan masalah infertilitas pria di masa depan.

Referensi

  • Fernández-López, P., Garriga, J., Casas, I., Yeste, M., & Bartumeus, F. (2022). Predicting fertility from sperm motility landscapes. Communications biology, 5(1), 1027.
  • https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/penyebab-pergerakan-sperma-lambat-yang-ganggu-kesuburan-pria

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecepatan, kesuburan, laki-laki, motilitas, sperma

Welcome to Our MDG Special Event with Dr. Puvanesvaran Velupulai

May 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, Menuju Dua Garis (MDG) menggelar acara istimewa yang berkolaborasi dengan TMC Fertility Malaysia dan didukung oleh PROEM.1. Acara ini diselenggarakan pada hari Minggu, bertempat di Kollabora Cafe mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.

Acara dibuka oleh Bumin MDG yang mengajak para sister dan paksu untuk bersama-sama memahami bahwa infertilitas adalah ilmu yang perlu dipelajari, bukan aib yang harus disembunyikan atau diratapi. Selanjutnya, acara dipandu oleh Mizz Rosie, Founder MDG sekaligus seorang pejuang IVF yang juga menjadi host dalam sesi ini.

Dr. Puvanesvaran Velupulai, seorang Consultant Obstetrician and Gynaecologist sekaligus Subspecialist in Reproductive Medicine dari TMC Fertility Puchong, Malaysia, hadir sebagai pembicara utama. Beliau menyampaikan materi yang sangat komprehensif mengenai infertilitas pria, dimulai dengan data bahwa 40% penyebab infertilitas di Indonesia berasal dari faktor laki-laki. Dr. Puvan menguraikan penyebab infertilitas pria dari sisi pra-testikular, testikular, hingga post-testikular, dilengkapi dengan penjelasan visual seperti bentuk mikropenis, video sperma, hingga prosedur TESE.

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan, dipandu langsung oleh Mizz Rosie. Pertanyaan dari para peserta mencakup mulai dari nutrisi yang disarankan, hingga kasus-kasus spesifik yang sedang dihadapi oleh sister dan paksu yang hadir.

Menjelang akhir acara, suasana menjadi semakin emosional ketika seorang pejuang dua garis berbagi kisah keberhasilannya mendapatkan buah hati melalui bantuan TMC Fertility. Cerita ini menambah semangat dan harapan bagi para peserta yang hadir dari berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Kediri.

Acara ini berlangsung dengan penuh kehangatan, edukatif, menyentuh, dan sangat menginspirasi. Para peserta menunjukkan tekad kuat untuk terus mencari tahu dan memahami kondisi mereka.

Untuk informasi dan kegiatan menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, Puvanesvaran, sperma, TMC

Pola Makan untuk Paksu: Rahasia Gizi yang Bikin Sperma Lebih Berkualitas

May 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sebagian dari kalian bisa jadi ber berpikir bahwa asupan makanan hanya soal kalori untuk tenaga. Tapi kenyataannya, kualitas makanan jauh lebih penting terutama kalau paksu dan sister sedang ikhtiar untuk program hamil.

Karena kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh komposisi nutrisi, bukan sekadar banyaknya kalori. Jadi Lemak, karbohidrat, protein, hingga senyawa bioaktif dalam makanan ternyata punya peran penting dalam proses reproduksi laki-laki, bahkan sampai ke tingkat seluler dan mitokondria. Coba yuk kita lihat setidaknya ada dua pola makan dan bagaimana jika digunakan untuk program hamil.

Yuk bandingkan Pola Makan Barat Vs Mediterania

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak orang disekitar kita yang mungkin mengadopsi pola makan Barat. Pola ini dikenal tinggi lemak jenuh dan trans, Karbohidrat sederhana (gula), Makanan olahan, daging olahan dan minuman manis.

Sayangnya, makanan-makanan ini sudah terbukti berkontribusi terhadap penurunan kualitas sperma. Penelitian menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh dan trans yang tinggi bisa mengganggu fungsi mitokondria yaitu bagian dari sel sperma yang bertanggung jawab memproduksi energi untuk bergerak. Sperma jadi lemas, lesu, bahkan rusak. Lalu bagaimana dengan pola makan mediterania.

Sebaliknya, pola makan Mediterania terbukti mendukung kesuburan pria. Pola makan ini didominasi oleh: Buah dan sayuran segar, kacang-kacangan dan biji-bijian, ikan dan minyak zaitun, karbohidrat kompleks dan konsumsi daging dan susu yang rendah

Model ini tinggi kandungan monounsaturated fatty acids (MUFA) dan omega-3, yang dapat menekan stres oksidatif dan memperbaiki performa mitokondria sperma. Sperma lebih lincah dan kuat berenang.

Meski begitu harus diketahui bahwa kandungan serat dan antioksidannya tinggi, pola makan ini bisa mengurangi asupan vitamin B12, zat besi, dan zinc, yang semuanya penting untuk fungsi testis dan produksi testosteron. Jadi, walau terlihat sehat, tetap butuh pengaturan dan pengawasan gizi yang seimbang.

Lemak: Bukan Musuh, Asal Pilih yang Tepat

Tidak semua lemak berdampak negatif. Justru, lemak dari kelompok asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) seperti omega-3 sangat penting. PUFA Mendukung struktur membran sperma, Menjaga fluiditas (kelenturan) sperma dan Mengurangi radikal bebas yang merusak DNA sperma. Sumber PUFA sehat bisa didapat dari salmon, chia seed, flaxseed, dan minyak zaitun. 

Karbohidrat & Protein: Pengaruhnya pada Hormon

Karbohidrat kompleks dan protein juga memainkan peran. Keduanya memengaruhi kadar testosteron dan stres oksidatif, dua faktor penting dalam produksi dan pematangan sperma. Hindari lonjakan gula darah dari karbohidrat sederhana (kayak minuman manis dan roti putih), dan pilih sumber protein seperti telur, ikan, tahu, atau tempe.

Terakhir adalah banyak makanan mengandung polifenol, antioksidan alami yang bisa menetralkan stres oksidatif pada sperma. Tapi hati-hati, dosisnya penting. Konsumsi berlebihan bisa mengganggu mitokondria sperma. Polifenol banyak ditemukan di teh hijau, buah beri, anggur, dan cokelat hitam.

Setelah memahami hal tersebut, paksu harus ingat bahwa Interaksi dari komposisi nutrisi harus memperhatikan tiga hal baik Bioenergetika mitokondria, Stres oksidatif dan  Kadar hormon (terutama testosteron) karena ini menentukan apakah sperma bisa “berfungsi optimal” atau malah menurun kualitasnya. 

Untuk itu dibutuhkan pola makan yang sehat tidak hanya menjaga kesehatan tubuh secara umum, tapi juga menjadi fondasi untuk kualitas sperma yang baik. Jadi, buat para paksu yang sedang berjuang untuk punya momongan, memperbaiki pola makan bisa jadi langkah awal yang sangat menentukan.

Karena pada akhirnya, usaha pejuang dua garis nggak hanya soal alat tes, tapi juga soal isi piring sehari-hari. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

Ferramosca, A., & Zara, V. (2022). Diet and male fertility: the impact of nutrients and antioxidants on sperm energetic metabolism. International journal of molecular sciences, 23(5), 2542.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laki-laki, makanan bergizi, menuju dua garis, nutrisi, pola hidup sehat, sperma

Jangan Anggap Remeh, Suhu Panas Bisa Rusak Kualitas Sperma!

May 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Suhu panas bukan cuma bikin tubuh gerah, tapi ternyata juga bisa berdampak serius pada kesuburan pria. Lebih spesifik bahwasanya paparan suhu tinggi baik dari cuaca ekstrem, gaya hidup, maupun lingkungan kerja ternyata berpotensi menurunkan kualitas sperma secara signifikan. Wah kenapa bisa begitu? yuk pahami lebih lanjut!

Kenapa Suhu Penting untuk Produksi Sperma?

Fakta yang harus kalian ketahui bahwa Testis bekerja optimal pada suhu yang lebih rendah dibanding suhu tubuh, sekitar 2 hingga 4 derajat Celcius lebih dingin. Saat suhu meningkat, fungsi spermatogenesis (proses pembentukan sperma) bisa terganggu. Bahkan, setiap kenaikan 1 derajat Celcius pada suhu testis dapat menyebabkan penurunan produksi sperma hingga 14 persen.

Apa Kata Bukti Ilmiah? Sebuah meta-analisis yang mengumpulkan data dari 9 studi internasional (melibatkan 336 pria dari Iran, Italia, Thailand, China, dan Mesir) menemukan bahwa paparan suhu tinggi berdampak negatif pada berbagai parameter sperma, yaitu penurunan volume sperma per ejakulasi, penurunan konsentrasi sperma, jumlah total sperma yang lebih sedikit, motilitas (kemampuan bergerak) yang menurun, penurunan motilitas progresif (kemampuan berenang ke arah yang benar), dan juga bentuk sperma normal yang berkurang.

Paparan suhu tinggi juga dikaitkan dengan penurunan aktivitas mitokondria dan adenosin trifosfat (ATP), yang krusial bagi gerakan sperma.

Ketahui apa saja Sumber Panas yang Berdampak pada Kualitas Sperma 

Jadi bukan berarti panas itu karena cuaca ya! karena selain perubahan iklim, peningkatan suhu testis juga bisa dipicu oleh duduk terlalu lama, penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat, sauna atau mandi air panas secara rutin, menaruh laptop di pangkuan dalam waktu lama, dan juga bekerja di lingkungan bersuhu tinggi seperti pabrik atau dapur. Bahkan pemanasan lokal sederhana seperti penggunaan sabuk pemanas bisa memengaruhi morfologi dan DNA sperma.

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Bagi sister dan paksu yang sedang dalam program kehamilan, menjaga suhu testis tetap optimal bisa dilakukan dengan, Menghindari paparan panas berlebih, Menggunakan pakaian dalam yang longgar dan sejuk, Mengurangi aktivitas seperti sauna, mandi air panas, atau memangku laptop, Konsultasi dengan dokter jika lingkungan kerja terpapar suhu tinggi secara rutin. Karena mungkin paksu membutuhkan suplemen.

Pada akhirnya semua masalah masih harus diperiksa lebih lanjut karena hasil yang bervariasi ini biasanya dipengaruhi oleh perbedaan durasi paparan, suhu yang digunakan, dan kondisi tubuh masing-masing partisipan. Meski begitu, bukti yang MDG jabarkan diatas menunjukkan bahwa suhu tinggi tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Sehingga mengenali faktor-faktor yang memengaruhi kesuburan paksu menjadi langkah awal yang penting. Karena perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memberi dampak besar terhadap kualitas sperma dan peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Hoang-Thi, A. P., Dang-Thi, A. T., Phan-Van, S., Nguyen-Ba, T., Truong-Thi, P. L., Le-Minh, T., … & Nguyen-Thanh, T. (2022). The impact of high ambient temperature on human sperm parameters: a meta-analysis. Iranian Journal of Public Health, 51(4), 710.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: #sperma #tukang, laki-laki, sperma, suhu matahari

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Page 10
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.